[Tentang] Wanita Pecinta Hujan

06:48 Frisca Putri 0 Comments



Hujan semalam memberikan banyak sekali hal yang akhirnya bisa dipikirkan sebelum tidur. Hanya karena sebuah chat yang datang kala hujan turun :

Kamu lagi mandi hujan malam gini?

“Udah tadi, kenapa?”

Enggak, kalau hari hujan, aku ingat kamu. Gadis manis penyuka hujan.

Dan saya tahu bahwa wanita ini sedang memastikan keadaan saya. Apakah saya sedang baik-baik saja. Atau tidak. Yang akhirnya saya benarkan bahwa sebenarnya saya sedang tidak baik-baik saja. Hati yang tadinya bersenandung riang karena banyak hal-hal menyenangkan yang terjadi, bahkan juga karena bunyi hujan yang sedang membasahi tanah Samarinda itu sebuah poin tersendiri untuk kotak kebahagiaan saya, tiba-tiba harus tergilas oleh hujan yang lain di dalam hati tersebut.

“Dan, gadis manis penyuka hujan ini, hatinya sedang turun hujan pula.” Kataku.

Begitulah.

Maksdnya adalah, ternyata upaya tidak sengaja saya yang mendeklarasikan diri ini sebagai wanita pecinta hujan, sudah diterima oleh banyak orang. Dan akhirnya “pencitraan” terebut menempel lekat pada pikiran mereka. Dalam satu point of view, ini berarti saya berhasil mencitrakan diri saya, dan akhirnya pada saat hujan, mereka mengingat saya sebagai orang yang akan selalu tersenyum pada hari hujan.

Berbeda dengan seseorang.

Ya, saya kenal seseorang yang akan selalu sibuk mencari headphone untuk mendengarkan lagu, agar suara rintik air tersebut menghilang dari peredaran otaknya. Atau mungkin, dia akan sibuk mencari kegiatan lain agar fikirannya tidak tertuju pada ketakutan hatinya akan hujan.

Dia pernah berkata begini.

“Bunyi hujan membuatku takut, mengingatkanku akan trauma mendalam di masa lalu.”

Ah… mungkin dia hanya butuh pelukan hangat saja disaat hujan turun. Dan suatu saat nanti, saya yakin dia akan melihat hujan dari sudut pandang yang berbeda.

Saya, mungkin pernah berfikir hal yang sama. Bahwa hujan memaksa saya menghawatirkan apa yang tidak saya ingat. Seolah-olah dia memaksa saya untuk memikirkan sesuatu yang tidak sengaja saya lupakan. Hujan membuat saya berfikir, ada sesuatu di sana, di luar sana, jauh dari kehangatan perlindungan rumah yang sedang saya singgahi, yang saya lupakan. Dan itu fatal.

Namun, sekarang tidak. Saya berhasil mengunci rasa takut itu, dan akhirnya hujan tidak pernah bisa membuat saya bersedih. Bahkan saat bersedihpun, dia mampu membuat saya tersenyum. Coba saja saat ingin menangis, berlarilah ke dalam rinai hujan. Kamu akan tersenyum, karena hujan sudah duluan menangis untuk kesedihanmu. Bukan begitu?

Jadi, pada dasarnya. Seberapa deraspun hujan yang turun di luar sana. Atau bahkan di dalam hati ini. Saya akan tetap menyukainya. Sebagaimana citra yang telah diukir bersahaja di hati orang-orang terdekat saya.

“Bahwa Friska adalah hujan… dan hujan adalah Friska.”

:)

--------
Day 2. *checked*
Feeling Gloomy,
Regards. FDP.

0 comments: