Showing posts with label feeling. Show all posts

Patah Hati Adalah Awal dari Transformasiku Menjadi Ubur-ubur


Hari ini tepat 28 hari aku menjadi gelandangan. Tolong jangan kasih selamat kepadaku karena ini bukan keberhasilan. Bagiku ini adalah nerakaku di dunia yang harus kulalui sendirian. Kenapa? Aku akan menceritakannya kali ini. 

Ubur-ubur adalah makhluk paling absurd di dunia ini menurutku. Namun juga paling luar biasa. Makanya, aku sangat mengidolakan makhluk ini, meskipun enggan bertemu secara langsung di dalam air. Apalagi pas lagi open water. 

Ubur-ubur bisa bertahan selama jutaan tahun tanpa perlu banyak berevolusi. Bisa dikatakan bahwa dia sudah sempurna untuk bisa berjuan selama jutaan tahun tanpa perlu menyesuaikan dan mengubah keadaan dirinya sendiri. Meskipun tidak punya otak, ubur-ubur mampu hidup dan terus beregenerasi sampai sekarang. Ubur-ubur bahkan berkembang biak secara vegetatif, jadi mereka bisa berkembang biak sendirian, gak perlu berdua.

Lalu, di sinilah aku, manusia yang menjadi ubur-ubur ketika patah hati.

Selama hampir 4 tahun ini, aku membangun hubungan menyenangkan dan juga tidak menyenangkan dengan seseorang. Seseorang yang sudah kuanggap bagian dari hidupku. Yang sampai kapanpun tidak akan pernah bisa kupisahkan dari kisah hidupku. Mungkin harus diakui, kami memulai semua ini dengan salah. Tapi, kami bertahan. Kami sama-sama berusaha untuk bertumbuh dan menjadi lebih baik satu sama lain.

Sampai akhirnya, di satu titik, pertumbuhan kami tidak lagi seimbang. Aku, tetap berjalan maju ke depan. Dia, entah sejak kapan dia berhenti berjuang. Belum lagi kerikil-kerikil sandungan yang mungkin saja membuatnya terjatuh dan tidak mau bangun lagi. Aku merasa, disampingku sekarang hanya angan. Tidak lagi ada dia yang menggenggam tanganku. Aku berjuang sendirian.

Aku memaksakan diri untuk terus berjuang dan berusaha, supaya kami berdua bisa sama-sama maju ke depan. Namun dia tetap tidak bergeming. Sudah tidak ada lagi niatnya untuk berada di sampingku. Sialnya, aku gak tau sejak kapan hal itu terjadi. Aku, pada akhirnya menyakiti diriku sendiri. Dia? Tidak peduli, dalam pandangannya sekarang sudah tidak ada lagi aku disana.

Aku merasa tersiksa setiap hari. Rasanya seperti dipaksa makan makanan yang tidak aku sukai. Aku jadi boneka tanah setiap hari. Hingga rasanya aku sudah tidak sanggup. Dan melepaskan tangannya.

Rumah yang tadinya ku bangun, ku titipkan padanya, menghilang bersama dengan menghilangnya genggaman tangan ini. Rumah itu menghilang, beserta dengan seluruh pondasi dan daratan yang mendasarinya. Aku menjadi gelandangan seketika. Aku gak punya apa-apa, dan tidak ada tempat berpijak lagi.

Aku terjatuh ke lautan dalam, karena daratan yang tadinya kupijak, juga menghilang. Aku tenggelam karena aku gak bisa berenang. Aku berusaha sekuat tenaga untuk tetap bertahan hidup, namun kadang gelombang datang dan menenggelamkan aku lagi.

Di hari ke-28 ini, gelombangnya lebih besar dari biasanya. Aku kehabisan tenaga, hingga yang kulakukan seharian ini hanya merengek saja. Merengek kepada diri sendiri yang juga sedang berjuang untuk bisa timbul ke permukaan lagi hanya untuk sedikit oksigen segar, supaya bisa berjuang lagi dalam balutan air.

Aku gelandangan yang sekarat, yang sedang berjuang bertahan hidup di tengah laut dari terpaan gelombang yang gak tau kapan datang dan kapan usai. Rasanya sesak, gak bisa bernafas. Aku sudah gak ingat siapa diriku sebelum aku jatuh dalam lautan ini. Yang kulihat hanya, samar-samar dia tertawa di daratan yang jauh dari jangkauanku. Dan mengundang siapapun untuk bertamu ke dalam rumah yang kami bangun sama-sama.

Aku gelandangan sekarat, yang bertahan hidup namun terus menelan pahitnya air garam.

Lalu aku teringat dengan ubur-ubur. Ubur-ubur pasti bisa bertahan di tengah kondisi seperti ini. Dia akan berenang bersenang-senang ke sana kemari justru ketika gelombang datang. Dan karena gak punya otak, dia pasti tidak akan peduli daratan ada dimana. Tentu dia juga gak akan kalah oleh arus gelombang kenangan masa lalu yang datang.

Sehingga, mungkin ini saatnya aku berevolusi menjadi ubur-ubur. Supaya aku juga bisa bersenang-senang ketika badaiku datang. Peduli setan daratan ada dimana, yang penting aku bisa hidup. Dan bersenang-senang meski sendirian. Meski hanya seorang gelandangan. 

Aku gelandangan sekarat, yang bercita-cita menjadi ubur-ubur.

Doakan aku.



Dari Seorang Sahabat : U N T I T L E D

satu lagi anak adam yang merasakan betapa sakitnya jatuh
terperangkap di dalam lubang dalam yang digali sendiri olehnya
terpenjara dalam jeruji besi yang dia bangun dengan begitu kokoh
seperti jantungnya yang dia penjarakan pada satu orang
berdetak namun tak lagi sanggup menjalankan fungsi utamanya

 
cinta ini ternyata begitu dahsyat namun hati ini tetap mampu menampung
dia begitu utuh dan genap mengisi tiap inci celah yang ada
begitu penuhnya sehingga tiada ruang kosong bagi yang lain
aku menutupnya dengan rapat dan enggan berbagi jika bukan denganmu

ya,
bukankah aku mengemasnya memang hanya untukmu?


aku yang mungkin terlalu naif membaca isyarat
disela  dentang waktu yang lantang bergerak maju,
saat kau pilih menghabiskannya bersamaku
seharusnya aku mencerna bukan dari sederet kalimat yang kau ucap,
melainkan setiap huruf perlu di-eja
untuk merangkai isyarat hatimu menjadi sempurna

hatimu memang tidak pernah memilihku,
harusnya aku paham itu
sementara aku terlalu sibuk memenuhi rasa ini di dalam tempatnya,
mengemasnya dengan apik
jauh berharap agar kelak aku bisa memenjarakannya di sana denganmu,

ternyata tidak


sampai aku tidak menyadari bahwa hati ini penuh oleh rasa yang tidak berbalas
aku jauh berekspektasi,
mencoba berspekulasi pada probabilitas yang sama sekali tidak menjanjikan
aku memenjarakan hati yang telah penuh olehmu pada tubuhku sendiri
menyesakkan.


bukankan cinta yang begitu besar membutuhkan hati yang juga besar untuk dapat menampungnya?
sepasang hati untuk menampung cinta yang teramat besar
ketika hanya satu hati yang siap,
tidaklah beda ia seperti merpati yang sayapnya terpanah
terbang tinggi habiskan sisa daya yang ada sebelum akhirnya ia jatuh terhempas

cinta ini begitu kuat menjejal milyaran neuron dikepalaku
mencari celah untuk keluar dan ingin segera aku membebaskannya
melepasnya berkelana,
menjembatani anak-anak adam dan hawa lainnya di luar sana yang menanti
membiarkan cinta itu membelenggu sepasang insan manusia yang tepat 
 
aku semakin yakin di luar sana kau sedang melakukan hal serupa
seperti apa yang aku lakukan
mengisi hati dengan rasa yang kini telah kau temukan sendiri,
rasa yang kau yakini
rasa yang mampu membawamu terbang setinggi puncak gunung,
rasa yang mengantarkanmu pada sejuknya pepohonan di belantara hutan tanpa tersesat
atau pada kedalaman laut yang menyembunyikan keindahan dan keheningan
seperti cintamu padanya yang mungkin kini tlah berbalas,
yang orang lain tak perlu tau
 
satu pesan yang tak ingin langsung aku sampaikan,
dimana pun kau berada,
dalam lelapmu yang indah
dikala serdadu fajar siap menyergap,
menghujani pagi dengan tetesnya hingga akhirnya menguap 
cukuplah kau menjaga cinta itu,
biarkan ia membelenggu dua hati kalian yang kokoh menampungnya

jika satu hati terluka,
jangan biarkan karena ia akan membebaskanmu
dan satu hati lain ikut terluka

jika cinta adalah pengorbanan,
biar aku saja.
 
-
Subuh, Desember 2014
Yuji Djamal.


------------------------------------------------------------**

Dari seorang sahabat,

Entahlah. Membacanya hanya mengingatkan kepada diri sendiri. Ini begitu mirip dengan yang pernah (atau sebenarnya masih sedang?) saya jalani. Untungnya dia mau berbagi hal ini. Sehingga, tulisan hari ini dipersembahkan untuk dia yang melakukan pengorbanan hakiki. Mencintai namun tak dicintai. Dan pada akhirnya hanya bisa berkata,

… Jika cinta adalah pengorbanan, biar aku saja.


Dan saya kemudian teringat quotes yang sangat saya sukai sampai sekarang.

“Kau tahu, hakikat cinta adalah melepaskan. Semakin sejati ia, semakin tulus kau melepaskannya. Percayalah, jika memang itu cinta sejati kau, tidak peduli aral melintang, ia akan kembali sendiri padamu. Banyak sekali pecinta di dunia ini yang melupakan kebijaksanaan sesederhana itu. Malah sebaliknya, berbual bilang cinta, namun dia menggenggamnya erat-erat.”
--Tere Liye, novel 'Eliana'
 

Saya rasa cukup berkaitan. Karena terkadang melepaskan juga berarti berkorban. Bahkan terkadang menyerah membutuhkan sebuah kekuatan tersendiri, dan itu tidak mudah.

Seseorang juga pernah berkata,

"Cinta adalah gangguan jiwa. Kamu belum mencintai, kalau belum sakit jiwa"

Begitulah. Silahkan menarik kesimpulan sendiri. :)


---------
Day 16. *checked*
Feeling Amaze,
Regards. FDP.

Rindu Itu...


Derita dari penulis moody-an seperti saya adalah, saat sedang berada dalam suatu fase dan itu sangat menguasai seluruh belahan otak saya, maka saat itu pula saya tidak pernah bisa berfikir hal lainnya. Kali ini, sebuah kata Rindu muncul dipikiran saya. Walau sudah berusaha sekuat tenaga menghalaunya, rasa itu tetap datang. Dan saya tidak bisa berfikir apapun selain itu sekarang.

Oleh karena itu, sebelumnya saya akan minta maaf untuk hal yang kiranya tidak menyenangkan ini.

Salahkan hujan. Salahkan semua kenangan yang tiba-tiba menyeruak masuk tanpa tendeng aling-aling. Dan itu pasti karena hujan. Pasti.

Rindu bagi saya adalah kata kerja. Kata kerja yang selalu saya lewati begitu saja saat harus berhadapan dengannya. Namun terkadang Rindu curang. Datangnya tidak terdeteksi, dan keroyokan. Sehingga benteng pertahanan saya seringkali jebol. Dan butuh usaha yang tidak sedikit untuk kembali menambalnya seperti sedia kala.

Saya sepertinya sudah lupa rasanya Rindu yang menyenangkan. Sudah lupa rasa Rindu yang tersalurkan selain melalui doa-doa panjang di malam hari dan tetes-tetes airmata yang membantu mengurangi rasa sesaknya. Rindu tidak pernah memberi kesempatan kepada saya untuk terlepas dari kenangan yang ingin saya tenggelamkan begitu saja diantara kebahagiaan-kebahagiaan lain.

Rindu bagi saya adalah kata sifat yang jahat. Dia tidak pernah berlabuh pada sesuatu yang baik. Mungkin, doa-doa itu akan menjadi lebih indah karena perasaan-perasaan di dalamnya tulus tanpa terhalang suatu apapun. Namun, Rindu ini sebuah kesia-siaan tersendiri. Saat terungkapkan, atau terucapkan, dia hanya akan terlepas dari bibir saja. Tidak terobati.

Rindu bagi saya adalah kata keterangan yang kuat. Sebegitu kuatnya sehingga, kebanyakan orang-orang yang memahaminya hanya akan tersenyum maklum saat tidak melihat sebuah senyum di bibir sang perindu. Walau sebagian yang lain akan tetap mencemooh. Ya, belum tahu saja mereka, bagaimana rasanya merindukan yang tidak boleh dirindukan.

Rindu itu kenangan. Rindu itu kumpulan kebahagiaan. Yang mengawang-awang di langit-langit hati. Membayangi, namun tidak terjangkau.

Ataukah mungkin saya hanya terlalu menempatkan kenangan-kenangan tersebut dalam bingkai yang terlalu mencolok? Sehingga, ditumpuk bagaimanapun, dia tetap terlihat. Dia tetap menjadi Point Of Interest. Mengundang rindu yang akhirnya hanya menciptakan perasaan kosong di sana.

Intinya. Saya merindukanmu.

Puas?

*ditulis sambil mendengarkan lagu One OK Rock – Be The Light.*
 
---------  
Day 5. *checked*

Feeling Incomplete,
Regards. FDP.