Showing posts with label random. Show all posts

Patah Hati Adalah Awal dari Transformasiku Menjadi Ubur-ubur


Hari ini tepat 28 hari aku menjadi gelandangan. Tolong jangan kasih selamat kepadaku karena ini bukan keberhasilan. Bagiku ini adalah nerakaku di dunia yang harus kulalui sendirian. Kenapa? Aku akan menceritakannya kali ini. 

Ubur-ubur adalah makhluk paling absurd di dunia ini menurutku. Namun juga paling luar biasa. Makanya, aku sangat mengidolakan makhluk ini, meskipun enggan bertemu secara langsung di dalam air. Apalagi pas lagi open water. 

Ubur-ubur bisa bertahan selama jutaan tahun tanpa perlu banyak berevolusi. Bisa dikatakan bahwa dia sudah sempurna untuk bisa berjuan selama jutaan tahun tanpa perlu menyesuaikan dan mengubah keadaan dirinya sendiri. Meskipun tidak punya otak, ubur-ubur mampu hidup dan terus beregenerasi sampai sekarang. Ubur-ubur bahkan berkembang biak secara vegetatif, jadi mereka bisa berkembang biak sendirian, gak perlu berdua.

Lalu, di sinilah aku, manusia yang menjadi ubur-ubur ketika patah hati.

Selama hampir 4 tahun ini, aku membangun hubungan menyenangkan dan juga tidak menyenangkan dengan seseorang. Seseorang yang sudah kuanggap bagian dari hidupku. Yang sampai kapanpun tidak akan pernah bisa kupisahkan dari kisah hidupku. Mungkin harus diakui, kami memulai semua ini dengan salah. Tapi, kami bertahan. Kami sama-sama berusaha untuk bertumbuh dan menjadi lebih baik satu sama lain.

Sampai akhirnya, di satu titik, pertumbuhan kami tidak lagi seimbang. Aku, tetap berjalan maju ke depan. Dia, entah sejak kapan dia berhenti berjuang. Belum lagi kerikil-kerikil sandungan yang mungkin saja membuatnya terjatuh dan tidak mau bangun lagi. Aku merasa, disampingku sekarang hanya angan. Tidak lagi ada dia yang menggenggam tanganku. Aku berjuang sendirian.

Aku memaksakan diri untuk terus berjuang dan berusaha, supaya kami berdua bisa sama-sama maju ke depan. Namun dia tetap tidak bergeming. Sudah tidak ada lagi niatnya untuk berada di sampingku. Sialnya, aku gak tau sejak kapan hal itu terjadi. Aku, pada akhirnya menyakiti diriku sendiri. Dia? Tidak peduli, dalam pandangannya sekarang sudah tidak ada lagi aku disana.

Aku merasa tersiksa setiap hari. Rasanya seperti dipaksa makan makanan yang tidak aku sukai. Aku jadi boneka tanah setiap hari. Hingga rasanya aku sudah tidak sanggup. Dan melepaskan tangannya.

Rumah yang tadinya ku bangun, ku titipkan padanya, menghilang bersama dengan menghilangnya genggaman tangan ini. Rumah itu menghilang, beserta dengan seluruh pondasi dan daratan yang mendasarinya. Aku menjadi gelandangan seketika. Aku gak punya apa-apa, dan tidak ada tempat berpijak lagi.

Aku terjatuh ke lautan dalam, karena daratan yang tadinya kupijak, juga menghilang. Aku tenggelam karena aku gak bisa berenang. Aku berusaha sekuat tenaga untuk tetap bertahan hidup, namun kadang gelombang datang dan menenggelamkan aku lagi.

Di hari ke-28 ini, gelombangnya lebih besar dari biasanya. Aku kehabisan tenaga, hingga yang kulakukan seharian ini hanya merengek saja. Merengek kepada diri sendiri yang juga sedang berjuang untuk bisa timbul ke permukaan lagi hanya untuk sedikit oksigen segar, supaya bisa berjuang lagi dalam balutan air.

Aku gelandangan yang sekarat, yang sedang berjuang bertahan hidup di tengah laut dari terpaan gelombang yang gak tau kapan datang dan kapan usai. Rasanya sesak, gak bisa bernafas. Aku sudah gak ingat siapa diriku sebelum aku jatuh dalam lautan ini. Yang kulihat hanya, samar-samar dia tertawa di daratan yang jauh dari jangkauanku. Dan mengundang siapapun untuk bertamu ke dalam rumah yang kami bangun sama-sama.

Aku gelandangan sekarat, yang bertahan hidup namun terus menelan pahitnya air garam.

Lalu aku teringat dengan ubur-ubur. Ubur-ubur pasti bisa bertahan di tengah kondisi seperti ini. Dia akan berenang bersenang-senang ke sana kemari justru ketika gelombang datang. Dan karena gak punya otak, dia pasti tidak akan peduli daratan ada dimana. Tentu dia juga gak akan kalah oleh arus gelombang kenangan masa lalu yang datang.

Sehingga, mungkin ini saatnya aku berevolusi menjadi ubur-ubur. Supaya aku juga bisa bersenang-senang ketika badaiku datang. Peduli setan daratan ada dimana, yang penting aku bisa hidup. Dan bersenang-senang meski sendirian. Meski hanya seorang gelandangan. 

Aku gelandangan sekarat, yang bercita-cita menjadi ubur-ubur.

Doakan aku.



Sebuah Legenda Tentang Kemping

 

Once upon a Time in a Neverland.

Apakah kalian percaya dengan Cinta Lokasi (Cinlok)? Kata mereka, cinta lokasi itu nyata. Banyak yang sudah mengalaminya, ketika kenghabiskan banyak waktu bersama-sama bisa membuat orang mudah sekali tertarik dengan lawan jenisnya. Bahkan, hal ini juga didukung satu pepatah Jawa :

"Witing tresno jalaran soko kulino."

Yang berarti, "Cinta tumbuh karena terbiasa". Namun buat saya ini bisa dilakukan dengan syarat dan ketentuan berlaku. Masih harus ada faktor-faktor tambahan supaya ini bisa kejadian. Bagi saya, itu mungkin saja terjadi jika dari awal saya menganggap orang tersebut menarik, saya tidak sedang terikat dengan siapapun dan begitu juga pihak lainnya.

Hanya saja, ada satu legenda yang beredar dikalangan pelaku-pelaku perjalanan dan yang hobbynya kemping. Berkemah. Atau bahasa kerennya Camping. Legenda ini entah asalnya darimana, namun sudah mampir di kuping saya sejak bertahun-tahun lalu, tepatnya ketika mulai kenal dengan teman-teman yang suka jalan dan suka "pindah tidur" di tempat-tempat yang menurut kami mampu mengisi kembali semangat kami untuk berkutat lagi dengan rutinitas.

Legenda tersebut adalah, jangan begadang dengan lawan jenismu -atau gender apapun yang menjadi ketertarikanmu- jika kamu tidak ingin terlibat dalam jatuh cinta spontan. Tetap bangun dan bertukar cerita hingga subuh bisa membuatmu jatuh cinta dengan siapapun yang saat itu bersamamu. Pada pukul 03.00 dini hari, lawan bicaramu akan terlihat lebih menarik. Kamu pun perlahan-lahan akan mulai merasa santai karena rasa kantuk yang dibendung. Lalu aliran cerita akan semakin intim dan tiba-tiba kamu merasa kamu mengenalnya luar dan dalam.

Jika kamu orang yang impulsif, bisa saja malam itu kamu menyatakan cinta. Kemudian esoknya bangun dengan kebingungan karena bisa-bisanya bangun dengan menggenggam tangannya.

Percaya gak?

Percaya gak percaya sih, tapi saya punya cerita nyata mengenai ini. Ketika saya paham betul bahwa saya pernah jatuh cinta dengan seseorang, saat sedang kemping bersama dengan teman-teman lainnya. Teman-teman yang sudah seperti saudara sendiri sehingga untuk jatuh hati seakan tidak mungkin.

Namun, nyatanya malam itu, angin bertiup ke arah sebaliknya.

Malam itu, saya letih seletihnya. Karena baru saja sorenya pulang dari kota tetangga, kemudian langsung pergi menempuh jarak sekitar 120km lagi untuk bergabung dengan teman-teman yang lain. Kami punya agenda Persami (perkemahan sabtu-minggu) hari itu, jadi karena saya tidak ingin ketinggalan kesenangan, saya menyusul.

Sekitaran pukul 01.00 dini hari setelah habis suara dan tenaga untuk bercengkrama dengan yang lain, saya memutuskan untuk masuk ke tenda. Entah tenda siapa, karena saat itu tenda siapapun jadi milik siapapun. Siapa yang duluan masuk, dia boleh tidur disana. Namun, sayangnya, saya tidak bisa tidur. Sangking capeknya mungkin.

Lalu ada dia. Kami memang tidak terlalu akrab. Kami dari kota yang berbeda, sehingga jarang bertegur sapa. Namun, malam itu, dia duduk di dekat tenda tempat saya tidur. Sepertinya berada tidak jauh dari kepala saya. Dia memainkan gitarnya dengan baik sekali. Dia seakan mengiringi sayup-sayup suara teman-teman yang masih belum tidur. Dan saya merasakan hati ini menghangat.

Sepanjang malam, sampai pagi hari, dentingan suara gitarnya mengiringi saya menenangkan diri. Mungkin tidak benar-benar tidur, namun, setiap terbangun, dia ada. Dia tidak tidur dan dia tetap disitu. Meskipun saya tidak melihatnya, atau mendengarnya bicara, malam itu saya merasa mengenalnya lebih banyak. Dan satu-satunya yang bisa berkomunikasi lewat hal itu, adalah dia.

Hanya hal sepele seperti itu saja, bisa membuat saya terbangun di pagi hari dan melihatnya dengan pandangan yang berbeda dengan sebelumnya. Jauh berbeda. Saya ingin tahu lebih banyak lagi tentangnya. Lebih mengenalnya. Dan seterusnya.

Cerita ini akan indah jika pada akhirnya saya dan dia bersama. Tapi tidak. Kami tidak bersama. Menjadi lebih dekat, iya. Lebih mengenalnya, iya. Tapi tidak ada hal romantis yang terjadi diantara kami berdua. Ada banyak versi yang beredar di sekeliling pertemanan kami, mengenai kedekatan kami, keterbukaan saya tentang dia dihadapan semuanya meskipun hanya dianggap main-main saja, padahal sungguh saya segamblang itu mengatakan bahwa dia spesial. Hanya saja manusia suka aneh, kadang ketulusan dan keterbukaan justru dianggap bercanda saja.

Sekarang? Ya, begini saja. Cukup saja hal ini saya yang ingat dan mengenangnya. Sudah bertahun-tahun pula berlalu, dan saya putuskan untuk membiarkannya menjadi cerita yang indah dan tetap hangat sampai kapanpun saya ingin mengingatnya lagi. Sudah bertahun-tahun berlalu, dan banyak pengandai-andaian juga yang muncul. Namun, jika kamu pernah begitu menginginkan sesuatu, tapi tidak berani memiliki karena takut jika kamu miliki ternyata hal itu tidak seperti yang dibayangkan di kepala, maka kamu paham apa yang saya rasakan sekarang.

Cerita indah sampai kapanpun hanya akan menjadi cerita indah. Saya akan menjaganya agar tetap menjadi cerita indah.

Jadi, mau percaya atau tidak soal legenda tersebut, silahkan. Tapi, kalau memang punya waktu dan tenaga lebih, serta butuh sesuatu yang berbeda, coba saja. Siapa tau, angin akan berhembus ke arah sebaliknya, padamu juga. 

Salam hangat,
FDP.


Who Were You Before They Broke Your Heart?


Siapa kamu sebelum mereka menyakiti hatimu? 
Sebuah pertanyaan sederhana yang belakangan ini mulai mengusik di dalam pikiran. Sering sekali, sehingga saya harus menguraikannya menjadi sebuah tulisan. Jadi, harap maklum kalau lagi-lagi kali ini saya mulai meracap tidak karuan.

Saya juga akhirnya lalu menelaah kembali. Siapa saya sebelum seseorang mematahkan hati saya? Siapa saya sebelum saya jatuh cinta kepada seseorang? Perubahan seperti apa yang dilihat orang? Pernahkan kita mempertanyakan itu dan mendapatkan jawabannya yang pasti?

Atau, sebenarnya kita sendiri sama sekali tidak pernah mengingat siapa diri kita.

Pertanyaan tersebut kemudian menjadi semakin sulit dijawab. Saya susah mengingat kembali siapa saya dulu. Siapa saya sebelum seseorang tersebut mengisi hari saya. Sebelum akhirnya menjadi bagian dari diri saya, membawa perubahan kecil. Setiap hari. Selalu begitu, hingga akhirnya ketika saya sadar dan menoleh kebelakang, saya bingung, dari mana saya mulai berubah.

Bagian mana dari detik-detik yang berlalu kemudian mengantarkan saya pada titik ini. Titik dimana saya berdiri sekarang. Naif rasanya jika kemudian kita bertanya kembali "Apakah saya menyesal?" karena sadar tidak sadar kaki kita sendirilah yang menuntun kita hingga sampai di tempat ini.

Diinginkan atau tidak, semua mengalami perubahan.

Sehingga, jika ditanya kembali "Siapa saya sebelum seseorang mematahkan hati saya?" Mungkin akan banyak hal terucap. Mungkin kemudian saya berandai-andai. Saya berfikir jauh ke belakang dan mungkin saja akan ada banyak senyuman karena kejadian-kejadian membahagiakan yang terlintas. Tapi, pada dasarnya saya tidak akan bisa memastikan siapa diri saya saat itu.

Karena identitas diri dan masa kini adalah dua hal yang tidak bisa dilepaskan.

Waktu membawa kita semua menjadi pribadi yang terus berkembang secara fisik. Manusia-manusia yang kita temui, satu persatu, disadari atau tidak memberikan sebagian kecil bagian hidupnya dalam aliran perjalanan hidup kita. Menjadi satu dengan tubuh kita, dan kemudian tidak bisa dihindari lagi. Kita adalah insan yang terbentuk atas kehadiran insan lain.

Saya yakin, begitulah sebenarnya manusia menanamkan eksistensinya dalam dunia ini. Menorehkan bagian dirinya dalam cerita kehidupan orang lain. Hingga nanti, meskipun kita meninggalkannya -atau ditinggalkannya, bagian itu akan tetap hidup, tinggal seberapa dalam torehannya saja yang membuat perbedaan. Apakah sanggup untuk terus dikenang, atau digantikan begitu saja dengan eksistensi orang lain yang ikut menorehkan bagiannya.

Bahwa sejatinya kita semua hidup dalam jalinan ikatan aliran tidak kasat mata yang menghubungkan satu sama lain. Semua diatur begitu teliti hingga ke mikro atau bahkan nano-second oleh sang Pencipta.

Sehingga, jejak apapun yang tertinggal di dalam diri kita harus kita terima sebagai bagian dari diri kita sendiri, seharusnya kita tidak bertanya "Siapa kamu sebelum mereka mematahkan hatimu?" lagi. Tapi bertanyalah :

"Apakah setelah kamu menerima bagian hidup dari semua orang itu, dirimu menjadi lebih baik?"
Marilah kita sama-sama mempersiapkan diri untuk menyambut perubahan. Karena mau atau tidak, disadari atau tidak, kita adalah makhluk yang selalu berproses. Ke arah yang baik atau yang buruk kah? Itu kemudian menjadi pilihan.

Salam,
FDP.

Kucing Itu Memilihmu. Bukan Kamu Yang Memilih Kucingmu.



Kucing.

Siapa yang tidak mengenal makhluk kecil berbulu yang menggemaskan ini? Sebagian bahkan memujanya, termasuk saya, sebagian lagi mencemoohnya. Kadang saya suka bingung terhadap mereka yang mempunyai rasa traumatis sendiri kepada kucing. Padahal, dibanding manusia kucing itu tidak berdaya apa-apa. Sehingga rasa takut yang disebabkan oleh kucing sangat tidak masuk akal buat saya.

Ada sebuah teori yang tidak sengaja saya baca -atau mungkin saya dengar- di suatu artikel. Bahwa kucing sebenarnya bukan hewan yang bisa kita pelihara begitu saja. Berbeda dengan anjing, anjing adalah mesin pecinta alami. Sekali saja kamu menunjukkan kasih sayang kepada mereka, mereka akan mencintaimu seumur hidup mereka. Jika kamu bisa memilih anjing mana yang mau kamu bawa pulang, namun kucing tidak.

Kucing yang memilihmu.


Sebenarnya saya percaya bahwa kucing memang makhluk angkuh penuh kesinisan dalam menjalani hidup ini. Kucing juga makhluk yang penuh kebebasan. Termasuk dalam bersikap. Ada beberapa kucing yang memang bisa dilatih. Tapi kebanyakan tidak. Mereka tidak pernah ambil pusing dengan peraturan. Yang mereka tau adalah bagaimana cara meminta makan yang baik dan tepat sasaran. Dan bagaimana cara mendapatkan kasih sayang dari pemiliknya.

Tidak. Maksud saya adalah, kucing yang memilikimu.

Kucing itu memang makhluk paling mengerti akan kecantikan dan keanggunannya. Dan mereka tau bagaimana cara menggunakan aset tersebut untuk menguasai manusianya. Sebut saja, bagaimana dia menggelendot manja di kakimu sambil memancarkan binar pengharapan dari kedua matanya yang bulat dan berpendar-pendar. Siapa yang bisa menolak wajah polos itu. Tentu saja, sebagai pemeliharanya, kamu pasti akan memberikan apa yang dia mau.

Ketika dia ingin disayang, dia akan mendekatimu. Ketika dia bosan disayang, dia akan pergi begitu saja. Dipanggil seperti apapun dia tidak akan menoleh, tapi ketika dia memanggilmu, dari sudut ruangan paling jauhpun kamu akan mendatanginya dengan segera.

Lalu, siapa yang memiliki siapa kalau begini?

Manusia sering jemawa berkata memiliki beberapa kucing dirumahnya yang bisa menghiburnya ketika dia sedih. Kenyataannya adalah kucing lah yang memilih akan berada di rumah siapa untuk tidur dan meminta makan. Apa kamu bisa melarangnya? Tidak. Ingat, mereka tidak mengenal aturan. Kebebasan adalah prinsip dasar para kucing.

Kucing yang mau tinggal denganmu adalah kucing yang memilihmu menjadi pengasuhnya. Jika dia merasa tidak puas dengan pelayananmu dia bisa saja meninggalkanmu pergi tanpa ampun. Kucing itu jahat, meskipun beberapa memang setia. Tapi, saya tetap percaya itu hanya karena kamu melayaninya dengan baik, sehingga dia memilih untuk tinggal.

Namun, meskipun begitu, meskipun diperbudak tanpa pamrih oleh para keparat kecil tersebut, meskipun kadang jengkel ketika mereka menghambur-hambur barangmu, atau bahkan suka iseng buang air sembarangan, kamu tetap akan memaafkannya bukan? Karena, semua kenakalan itu setimpal dengan kenyamanan yang mereka berikan. Karena, tatapan mata penuh pesona itu yang akan kamu rindukan ketika jauh dari rumah. Meskipun anjing memang lebih setia, namun kucing mempesona. Dan semua hal-hal buruk yang kucing lakukan, akan luruh ketika mereka mendengkur pelan dan mengeong manja. Kamu tidak bisa marah kepada yang kamu cintai. Para kucing mengetahuinya, dan memanfaatkannya dengan benar.

Karena mereka sudah memilihmu. Dan kamu pun bahagia karena mereka memilihmu. Bagi saya, itu terlihat sebagai simbiosis mutualisme. Siapa yang akan memperbudak siapa, itu tidak masalah. Karena cinta selalu begitu. Karena cinta tidak peduli itu semua. Seperti saya yang terjebak oleh cinta 3 ekor kesayangan saya.

Besok-besok akan saya ceritakan di sini. My Three MusCATeers. :D

Salam sayang,
Dari Io, Titan juga Artemis.
Dan FDP juga. :)

Renungan Akhir Tahun 2016


"Time won't make you forget. It'll make you grow and understand things."
Hai, bertemu di penghujung tahun. Entah apa yang menghalangi saya menulis, namun, ya, tahun ini saya sedikit sekali melimpahkan keluh kesah dalam sebuah tulisan. Seperti misalnya saya yang selalu saja berekspektasi sedikit berlebihan dan kemudian kecewa. Mungkin sebenarnya saya hanya tidak ingin tulisan saya berkutat di itu-itu saja. Dengan kondisi kejiwaan yang tidak berkembang, sehingga tulisan saya penuh dengan aura negatif.

Baiklah, malam ini saya tidak ingin terseret kesedihan. Jadi curhatnya harus berhenti sampai sini.

Kemudian, bagaimanapun soal penghujung tahun selalu menyisakan sedikit kesedihan dalam hati. Karena tahun ini akan pergi dan tak kembali. Padahal, sebenarnya setiap hari, setiap jam dan setiap detik yang pergi tidak akan mungkin kembali. Lalu, kenapa sedihnya hanya hari ini?

Sebenarnya kesedihan itu adalah representatif dari rasa kesal karena harus menua. Saya mungkin bisa mengerti perasaan artis yang bersikeras mengusahakan mati dengan cara yang salah ketika mereka sedang berada dalam puncak popularitas karena ketakutan mereka untuk bertumbuh dan ketakutan mereka untuk kehilangan.

Karena, jujur saja. Saya pernah merasakan ketika berada dalam puncak kebahagiaan saya, saya ingin waktu saya berhenti sampai situ saja. Namun tidak. Waktu itu jahat. Dia tidak peduli siapapun. Dia hanya terus berjalan saja menyeret kita semua, mau atau tidak, rela atau tidak, sampai akhirnya sisa waktu kita habis. Kemudian, kebahagiaan itu pun menurun bekasnya melalui waktu. Terkikis perlahan-lahan dengan perasaan lain, dan kemudian menghilang.

Siapa yang siap akan kehilangan? Tidak ada yang pernah siap dengan perpisahan. Tidak di mulut, tidak pula di hati. Namun, sekali lagi, waktu tidak peduli. Dia hanya akan terus berjalan maju meninggalkan semuanya, dan menyeret segalanya untuk tetap ikut dalam arusnya. Tidak apa, itu tugasnya. Memang harus seperti itu.

Tapi, sebenarnya waktu juga baik. Karena dengan adanya waktu, kita bisa memiliki harapan. Memiliki kepercayaan terhadap keajaiban masa depan. Memiliki keinginan dan memacu untuk lebih sabar menunggu sesuatu yang lebih indah. Padahal, kita tidak pernah tahu apa waktu akan membawakannya atau tidak. Setidaknya, bagi manusia ini, mereka tidak kehilangan harapan dan itulah yang membuat mereka lebih kuat.

Waktu juga menyulitkan saya. Tepatnya, nanti dia akan sangat mempersulit hidup saya. Ketika saya harus menghadapi kenyataan, memilih antara yang tercinta atau yang paling dicinta. Yang satu digenggam, yang satu akan menghilang. Saya tahu, 2017 tidak akan mudah bagi saya. Tapi, setidaknya ruang hati saya masih percaya pada harapan. Bahwa waktu tidak akan peduli kepada luka saya, dia akan terus konsisten dengan detaknya. Dan saya, berharap bisa menitipkan duka saya dalam lantunan arusnya.

2016.

Terima kasih atas semua kebahagiaan, obsesi yang terpenuhi, rasa cinta, kasih sayang, permusuhan, kegagalan, dan banyak hal lainnya. Terima kasih sudah membuat saya bertumbuh, dan berkembang. Meskipun mungkin kedewasaan saya kali ini hanya berubah lebih banyak seujung kuku daripada sebelumnya. Tidak apa, kadang, selain menua saya juga takut menjadi semakin menyebalkan karena sok tahu. Tapi, saya akan menganugerahkan predikat tahun terbahagia saya di 2016. Karena sudah sepantasnya begitu. Terima kasih.

2017.

Saya tidak akan berharap banyak. Tapi, saya akan berjuang. Mungkin tidak akan jadi anak manis selama setahun penuh, namun saya akan berusaha semampunya.

Selamat Tahun Baru 2017.
Semoga semuanya menjadi lebih baik.

Salam,
FDP.

Bagi Mereka Tahun Ajaran Baru Adalah Sebuah Harapan Baru.

Hari ini, di kota Samarinda sekolah baru memulai Tahun ajarannya 2016/2017. Beruntungnya saya masih diberi kesempatan untuk terus menjadi bagian dari tahun ajaran ini di salah satu sekolah menengah kejuruan negri di samarinda.

Sebenarnya saya hanya ingin menceritakan apa yang saya rasakan ketika untuk pertama kalinya dalam sekian tahun saya kembali ikut hadir dalam upacara bendera setiap hari senin.

Saya teringat diri saya sendiri ketika melihat siswa siswi memulai kegiatannya lagi. Kembali pada rutinitas yang menjemukan, namun bagi sebagian lagi sekolah menjadi tempat yang sama dengan wahana bermain. Tapi, saya yakin siswa saya menganggap sekolah hanyalah bagian dari rutinitas lainnya.

Indonesia. Yang mengenalkan rutinitas itu. Mengajarkan keteraturan, tp tidak mampu menyiapkan kita menghadapi kehidupan sesungguhnya. Rutinitas itu akhirnya menjadi bumerang bagi kita yang taat dan tertib pada peraturan. Ketika mereka lepas dari rutinitas, mereka kehilangan jati diri mereka.

Saya tersenyum mengingat tahun-tahun saya berada di SMA. Ketika menginjak tahun pertama, upacara pertama ini adalah hal yang mencemaskan. Sebut saja MOS untuk siswa baru. Bagaimanapun bentuknya saya tidak pernah menyukai hal itu. Bisa dibilang saya takut. Takut menghadapi perubahan dan takut menghadapi alur adaptasi mereka-mereka yang luar biasa. Pada akhirnya saya terpaksa harus berubah. Sungguh tidak mudah bagi anak usia 14 tahun belajar beradaptasi. Namun saya menyadadi bahwa sebenarnya MOS itulah yang membantu saya bertahan. Bagaimana saya akan menjalani hari-hari di sekolah, ditentukan disini.

Kemudian tahun kedua. Saya ingat betapa bangganya saya menjadi kakak kelas. Saya terbebas dari rasa takut pembullyan. Oh iya, saya termasuk salah satu siswa yang pernah di bully. Namun karena saya tidak peduli, akhirnya mereka melepaskan saya. Bukankah pembullyan adalah pelajaran berharga. Entah dasarnya apa, saya tidak pernah mengerti. Mungkin hanya karena saya sedikit berbeda dan tidak suka mengikuti arus mereka, sehingga rasa tidak suka itu muncul. Kita cenderung berfikiran negatif terhadap orang yg berbeda dengan kita, bukan?

Kembali kepada soal pelajaran berharga. Sebenarnya pembullyan adalah batu loncatan buat anak seusia itu. Jika dia bertahan, maka dia akan menjadi sosok yang kuat. Jika tidak, maka masa depannya akan ikut berantakan. Begitulah. Saya belajar untuk kuat semenjak saya masih sangat belia. Disitu saya belajar. Saya tidak bisa memaksakan setiap orang harus menyukai saya, dan saya belajar menerima bahwa ada orang"yang tidak suka kepada saya.

Selain rasa lega luar biasa, saya juga memiliki sedikit rasa kehilangan ketika itu. Tentunya saya kehilangan idola-idola saya di kelas 3 yang lalu. Dan, itu sedikit menyedihkan. Sembari berangan dalam hati, kiranya siapa di kelas 3 yang sekarang yg bsa jadi mood booster buat ke sekolah ya? Haha.. begitulah, namanya juga lagi puber.

Lalu, di tahun ke tiga. Ketika pertama kali ikut upacara bendera, saya kembali sedih. Karena sebentar lagi saya yg menghilang dari sekolah itu. Saya mulai tidak peduli dengan hal remeh. Saya mulai merenungkan, setelah lepas dari zona nyaman bernama rutinitas yang diatur orang tua dan pemerintah, saya harus membuat rutinitas saya sendiri.

Dan, perjalanan itu gak main-main. Bahkan setelah saya lulus SMA pun, saya masih belum punya ambisi. Saya masih mencari. Dan saya masih mengembangkan kemampuan saya. Jadi, saya rasa itu wajar. Ketika kita kebingungan dan hilang arah. Itu wajar. Karena suatu saat kita akan temukan passion kita sendirinya. Tidak perlu pusing. Yang penting tetap lakukan yang terbaik.

Begitulah. Melihat mereka semua masih berada dalam perlindungan kami, para guru ini, sedikit merasa terenyuh. Dan lucu. Jangan keburu-buru untuk dewasa, anak-anakku. Seiring bertambah dewasa kalian, beban fikiran yang akan kalian terima justru akan semakin berat. Hidup itu latihan. Tantangan. Dan benar-benar penuh dengan zona perang. Jika kalian tidak bisa bertahan, kalian akan gagal. Sabarlah. Semua akan datang dengan sendirinya. Nikmati dulu segala kemewahan masa SMA kalian. Karena setelah itu, hidup itu perih. Hidup itu luka.

Tetap menjadi yang bermanfaat buat orang lain. Hingga nanti, kedepannya kalian tidak akan merasa kesepian. Selamat berjuang.


Cinta Adalah Kebebasan.

Memberanikan diri kali ini menulis tentang cinta. Tentang sesuatu yang terlalu luas sehingga tiada kata yang sanggup menguraikannya menjadi suatu definisi utuh. Bagaimanapun, ini hanya hasil kesimpulan dari beberapa informasi yang masuk dan saya olah. Entahlah, saya sendiri tidak terlalu paham dengan hal ini.

Hanya saja, yang saya tau pasti. 

Cinta adalah Kebebasan.

Cinta adalah kebebasan mutlak. Jatuhnya, datangnya, bahkan hilangnya selalu tanpa alasan yang jelas. Tiba-tiba saja kita yakini ini cinta. Di lain waktu tiba-tiba saja itu bukan cinta. Membingungkan. Sangkin luas dan bebasnya pemahaman tentang itu, satu satunya yang bisa saya simpulkan adalah, cinta adalah kebebasan.

Sampai sekarang, setelah beberapa kali saya merasakannya pun, saya tidak bisa mengingat dengan pasti alasan-alasan yang dapat menimbulkannya. Terkadang jatuh karena terbiasa. Di saat lain karena kekaguman yang meraja. Sisanya karena merasa mirip, dan jatuh cinta terhadap diri sendiri itu adalah hal yang paling mudah. Bagi saya, sih. Cinta itu bebas. Bebas jatuh kepada siapa saja yang siap. Bebas lepas dari siapa saja yang telah lelah.

Bahkan, menyikapinya pun bebas. Dan yang paling baik adalah memberikan kebebasan. Pernah dengar sebuah kalimat "jika kamu bahagia, itu sudah cukup bagiku. Karena itulah yang kurasakan juga. Kamu bahagia, aku juga."? Percaya? Saya, percaya.

Apa ya? Bagi sebagian orang, mencintai sama dengan keinginan memiliki. Dan saya selalu menggeleng sedih setiap melihat konsep ini berhamburan di luar sana. Sadarkah? Bahkan diri kita saja bukan milik kita loh, berani-beraninya mengklaim orang lain adalah milik kita.

Sehingga, yang terbaik adalah membebaskan. Karena pada dasarnya kita hanya aktor yang digerakkan oleh sutradara yang Maha Luar Biasa. Jika kita membebaskannya dalam keimanan yang sungguh, percaya pada apa yang sudah ditulis, pasti kesempatan bersama itu terbuka luas. Ini rahasia. Tetapi, banyak para pendahulu yang menggunakan trik ini justru sukses hidup bersama dengan jodohnya.

Cinta adalah kebebasan. Jangan sampai digunakan sebagai alasan untuk membatasi. Cinta itu membebaskan bukan menghalang-halangi. Cinta adalah keikhlasan, ikhlas menghambakan diri untuk berada dalam komitmet yang bertanggung jawab. Dan terakhir, cinta itu membahagiakan. Jika cintamu menyakitkan saja, itu jelas sekali berarti kamu yang sakit.

Tidak percaya? Coba saja. Tapi sekali lagi, ini rahasia. Dan hanya akan berhasil kepada orang-orang yang mempunyai kepercayaan yang kuat terhadap Suratan Tuhan. Selebihnya? Tidak akan berhasil.

Tidak percaya? Coba saja.
Coba saja Jatuh cinta. ;)


Karena Kampung Halaman Tidak Pernah Senyaman Rumah Sendiri.

Selamat Malam.

Melaporkan dari kampung halaman saya, Jawa Timur. Setelah beberapa minggu tinggal di sini dengan semua keindahan dan keunikan Kediri. Terlebih dengan kenyamanan yang saya dapatkan karena pada akhirnya saya bisa melampiaskan rasa rindu kepada Ibu tercinta. 

Saya akhirnya menyimpulkan demikian. Bahwa pulang kampung itu menyenangkan, namun rumah sendiri itu lebih nyaman.

Bagi saya, arti perjalanan kali ini menjadi sebuah "Reseter". Cara saya untuk menafikan semua rutinitas harian saya yang belakangan ini memang kehilangan pola sehatnya. Sehat di sini tentu saja tidah hanya berarti sehat raganya. Namun sehat jiwanya pula. Rutinitas ini saya akui tidak cukup sehat dan bisa membawa saya kepada kehancuran lainnya (Baca : Depresi).

Memang, tidak ada yang lebih menyenangkan dibanding berkumpul dengan orang yang kita sayang. Di sini saya benar-benar melupakan masalah saya. Dimanja habis-habisan. Baik oleh keluarga sendiri maupun dengan tempat-tempat yang saya datangi. Belum lagi hal-hal lainnya. Ini benar-benar seperti surga. Bagai mimpi indah yang panjang.

Dan saya, keluar habis-habisan dari zona nyaman saya.

Maksudnya adalah, saya merasa bebas. Lepas tanpa tanggung jawab yang membayangi, tanpa harus menghawatirkan hari esok, sebab yang saya pikirkan adalah bagaimana cara menghabiskan waktu yang menyenangkan, bukan bagaimana saya bertahan hidup esok hari. Dan saya sama sekali tidak berusaha apapun untuk melakukan perubahan. Sebut saja, saya tidak memperluas koneksi. Karena apa yang tertanam di dalam kepala adalah..

"Saya tidak bisa mempertahankannya, karena akan pergi. Lalu, buat apa berusaha?"

Mungkin, sejatinya kampung halaman itu seperti tempat kita melarikan diri sejenak dari apa yang kita rasakan. Dari pekerjaan. Masalah perasaan. Persahabatan. Dari hidup. Ini seperti salah satu tempat kita mengisi bahan bakar semangat untuk selanjutnya berjuang lagi di kemudian hari. Jauh lebih ampuh daripada liburan biasa, karena ada keluarga yang akan membuat semuanya menjadi berkali-kali lipat.

Ini adalah kebutuhan. Kita butuh tempat dimana kita bisa keluar dari zona nyaman kita dengan aman. Dan berada dalam pelukan keluarga adalah zona yang sangat aman. Bagi siapapun juga.

Sejatinya, rumah adalah tempat kita beristirahat dan berkumpul bersama keluarga, bukan? Namun bukan berarti rumah itu adalah tempat untuk pulang. Kita akan pulang kepada kehidupan kita. Tempat kita memikirkan dan berusaha untuk menggapai masa depan, tempat kita untuk mencapai ambisi, tempat kita tersandung dan jatuh untuk bangkit lagi. Kita semua punya satu tempat itu.

Itu adalah kehidupan kita. Dan orang-orang di dalamnya adalah orang-orang pilihan kita. Terlepas tempat itu benar-benar berbentuk rumah atau tidak, yang jelas hanya di dalam situasi itulah kamu bisa mengembangkan diri kamu dan menggunakan raga serta otak kamu semaksimal mungkin. Rumah itulah yang disebut zona nyaman.

Dan, impian kecil saya adalah, saya bisa berada dalam zona nyaman seseorang. Tidak perlu menjadi tempat dia pulang. Namun, menjadi salah satu alasan seseorang untuk kembali menghadapi hari dengan saya berada di dalamnya. Itu saja.

Sedang berjuang untuk tetap waras,
Kediri, 20.36 WIB.

Kepada Pagi, Selamat Untukmu. Kepada Kamu, Selamat Pagi Dariku.

Selamat Pagi Dari Biduk-Biduk (1705515)
Pagi ini entah kenapa tangan tiba-tiba tergerak membuka halaman lama dari satu wadah ini. Wadah yang sebenarnya terlalu absurd untuk dijadikan referensi tulisan sendiri. Namun harus diakui bahwa menulis disini sama menyenangkannya dengan menulis di sosmed yang terbatas 140 karakter itu.

Kepada pagi, selamat untukmu.

Selamat karena masih mau betemu dengan saya yang sampai sekarang masalahnya masih sama. Masih seperti itu. Tidak berubah. Masih si bodoh yang terlalu memikirkan orang lain dibanding dirinya sendiri. Masih terlalu sering terjebak dalam masalah orang lain dibandingkan masalah diri sendiri. Masih suka ikut campur? Ya. Meskipun sudah mengurangi drama.

"Pagi, berarti satu hari yang melelahkan terlampaui lagi. Pagi, berarti satu malam dengan mimpi-mimpi menyesakkan dilalui lagi."
-tereliye

Benar, bagaimanapun di dalam setiap pergantian hari, saya paling menyukai pagi. Bau petualangan tidak bisa dihindari. Seperti dorongan adrenalin yang kembali mengendus sesuatu di luar sana. Saya selalu menyukai perasaan ketika bangun pagi dan bersemangat menyusun hari. Meskipun, kebanyakan tidak pernah sesuai dengan rencana. Setidaknya, bersemangat diawal bukanlah bukti kebodohan semata.

Itu adalah bukti bahwa saya  hidup. Saya masih bisa berkarya lebih banyak lagi. Saya masih bisa berpetualang lebih jauh lagi.

Semangat seperti ini yang membuat saya selalu tersenyum kepada pagi. Pagi yang indah, dan menyenangkan. Walau kadang ada pagi-pagi dimana saya ingin membenamkan kepala di bantal dan selimut hangat kesayangan karena ingin melampaui hari begitu saja. Tapi itu nanti. Sekarang, mari hirup dalam-dalam aroma pagi yang penuh dengan semangat hidup ini.

Sepertinya satu masalah sudah terlewati lagi, ya?

Mungkin, mungkin juga tidak. Mungkin juga saya hanya sudah berhasil memilih tidak peduli. Dan berfokus pada pencapaian.

Dan kepada kamu, selamat pagi dariku.

Semoga semangat ini menular sampai kepadamu yang jauh di sana. Tenang, hidup ini mudah. Dan indah. Jika dan hanya jika kita mau membuka mata lebih lebar lagi untuk mensyukuri apapun yang ada disana.

Seseorang berkata. "Orang yang banyak bersyukur, adalah orang yang sehat."

Mari kita kembali berjalan melalui garis yang baik. Menuju kebaikan. Sampai akhirnya kita bertemu diujung hal baik. Bersama-sama menikmati hasilnya.

Selamat pagi. 

Jatuh Cinta Itu Biasa Saja

Jatuh cinta itu biasa saja. Sebiasa orang melihat matahari pagi yang muncul dari ufuk timur dan tenggelam di Barat. Sebiasa perpindahan menakjubkan langit senja dari biru terang menjadi hitam pekat. Sebiasa berada di tempat tertentu untuk tujuan tertentu.

Jatuh cinta itu biasa saja. Sebiasa kamu bangun di pagi hari sambil memikirkan orang yang sama. Sebiasa kamu makan ketika lapar dan minum ketika haus. Sebiasa detak jantung yang terus bergerak seirama kegiatan darah yg harus terus mengalir. Tiada spesialnya. Tiada istimewanya.

Jatuh cinta itu biasa saja. Sebiasa rindu yang tidak tersampaikan dengan sengaja. Sebiasa menelan perasaan pahit saat cinta tidak berbalas. Sebiasa takdir yang rumit ketika semuanya terasa sempurna meskipun pada akhirnya tidak. Biasa saja, tidak istimewa.

Jatuh cinta itu biasa saja.

Jatuh cinta itu biasa saja.

Jatuh cinta itu biasa saja.

Dan....

Jatuh cinta itu biasa saja.

Lalu kenapa harus diperumit dengan segala kerumitan yang tidak seharusnya terlaksana?

Biasakan saja. Anggap saja memang seharusnya terjadi. Biarkan saja. Jika memang dia yang ditakdirkan untukmu, semuanya akan berjalan sempurna.

Seperti takdir Tuhan yang biasa. Yang selalu indah dan tidak pernah terduga. ;)

Iya, jatuh cinta itu biasa saja, kok. :)


Dosa Masa Lalu


Tentang sebuah kesalahan yang terjadi di masa lalu. Tentang kebodohan yang dilakukan namun menjadi pelajaran berharga. Tentang sebuah saksi bisu bahwa kita semua hanyalah manusia biasa. Tentang sebuah kenangan yang mungkin telah terlupakan oleh kita, namun bukan orang lain.

Meskipun, kita sudah menyesalinya berkali-kali.

Dosa masa lalu yang masih terangkai dengan hukuman di masa kini. Yang paling parah adalah saat kita sebenarnya sudah belajar dari kesalahan itu, namun ternyata hal itu masih bersisa di hati orang lain. Apalagi, saat kita sudah beranjak maju dari waktu tersebut, namun pihak lain masih mengungkitnya karena baru tahu atau baru sadar.

Bukan tentang balas dendam. Namun, lebih konyol dari pada itu. Bagaimana ya menjelaskannya. Ummm… misalnya begini. Saat kita berbuat sebuah kebodohan yang akhirnya merugikan orang lain, namun saat itu orang tersebut belum mengetahuinya. Dan kemudian kita sadar, kita menyesal dan belajar sesuatu dari itu. Lalu melupakannya begitu saja. Namun, setelah kita jauh berjalan dari kebodohan itu, orang yang kita rugikan baru sadar. Dan mulai meminta pertanggung jawaban dari sakit hati dan kerugiannya.

Well, kalau sudah begini, saya hanya bisa menghembuskan nafas dalam-dalam dan berkata,

“Sudahlah, tidak boleh protes dengan hukuman atas dosa di masa lalu.”

Karena bagaimanapun, itu adalah tanggung jawab kita. Maksudnya, itulah hukuman yang didapatkan ketika melakukan kebodohan tersebut. Meskipun sebenarnya kita sudah jauh melangkah, dan kembali mengurusi hal itu adalah sangat membuang-buang waktu dan tenaga. Tapi, mau tidak mau, kita harus bertanggung jawab atas kemarahan orang yang ita rugikan. Itu kewajiban. Setidaknya mereka punya hak untuk melampiasan amarahnya.

Dan kita tidak boleh protes. Terima saja. Itu hukumannya.

Anggap saja, dalam sebuah perjalanan kita memang harus menemukannya. Kalau mau bicara sok-sokan sedikit. Mending dihukum di dunia daripada dihukum di alam sana.

Sebenarnya yang ingin saya sampaikan adalah, apapun itu kita harus bertanggung jawab penuh terhadap semua kesalahan dan kebodohan yang dilakukan. Karena suatu saat, semua itu akan menjadi Dosa di Masa Lalu. Dan saat pembalasan terjadi, kita harus siap.

Begitulah.


---------
Day 13. *checked*
Feeling Wise,
Regards. FDP. 


Secangkir Kopi di Pagi Hari.



Entah sejak kapan Kopi menjadi sebuah ritual tersendiri untuk saya. Kopi menjadi penenang dan berhasil menentramkan hati yang selalu menjadi prioritas utama di dalam kepala. Hati yang selalu kacau. Dan kemudian kopi menjadi titik nol-nya.

Kopi dulu pernah membuat sejarah buruk pada tubuh saya. Dia selalu bisa membuat mual setelah setiap tetes yang saya teguk. Dan itu membuat saya trauma. Lalu, kopi menjadi sebuah hal terlarang bagi saya dan pencernaan saya. Dulu.

Kemudian, entah sejak kapan semua itu berubah. Ketika rasa mual itu tidak pernah mengganggu lagi. Masih tetap timbul, namun terabaikan. Saya lebih terpesona dengan apa yang berhasil dia perbuat untuk kenyamanan saya. Saya menemukan kedamaian tersendiri saat getir pahit itu melintas di lidah saya.

Bahkan, sekarang jauh lebih ekstrim. Saya bisa merasakan kadar kepekatan kafein yang meluncur begitu saja meleati tenggorokan. Dan jika bukan dengan intensitas tertentu, saya pasti mencemoohnya. Setelah saya pikir, saya memang orang yang menyebalkan ya? Haha.

Mungkin, kepahitan itu menjadi pengisi kekosongan sendiri terhadap perasaan saya. Menjadi distraksi yang baik untuk tidak fokus kepada kehampaan yang selalu saya rasakan saat membutuhkan kopi itu sendiri. Kadang saya sering bertanya, apakah ini memang rasa ketergantungan saya terhadap kopi, atau mungkin hanya rasa ketergantungan terhadap sensasi yang dia berikan kepada saya.

Awalnya, hanya sebuah pelarian kecil. Menurut saya, rasa tidak nyaman yang ditimbulkan kopi akan mengalahkan rasa tidak nyaman yang saya rasakan sebelumnya. Kemudian, ternyata saya juga menyukai ketidak nyamanan itu. Seakan membaur menjadi satu mengisi dengan penuh kekosongan yang timbul karena sesuatu disana telah dicabut paksa.

Dan pada akhirnya, kopi menjadi bagian dari saya.

Meskipun saya tahu, tidak selamanya saya bisa menghindar dari hal-hal yang harus saya hadapi. Namun, sekarang, untuk saat ini, melarikan diri seperti ini menjadi jauh lebih mudah. Sampai saatnya saya harus menghadapinya dengan tegar. Seperti biasa. Menjadi wanita tangguh seperti biasa. Tanpa mereka tahu darimana kekuatan itu berasal, tapi saya sudah biasa.

Dan untuk saat ini hanya kopi yang mengetahui rahasia kecil ini.

Secangkir kopi di pagi hari, secangkir kekuatan yang dibutuhkan untuk menjalani hari.

Sampai kapan?

Sampai tubuh ini berkata,

“Sudah cukup, fris. Berhenti berjuang. Saatnya menyerah.”

---------
Day 12. *checked*
Feeling Flat,
Regards. FDP.

Damn You, Bad Mood.



Seperti yang sudah saya duga sebelumnya. Malam ditemani hujan, kopi dan kenangan. Memaksakan diri untuk menjauhi kotak pandora berisi depresi yang sudah bisa ditekan sebelumnya dengan mencoba tidur. Justru malah menjadi bumerang tersendiri untuk mood saya dipagi harinya. Ditambah tidur yang tidak nyenyak dan seadanya. Sudahlah, ini harga mati untuk melalui seharian dengan mood buruk.

Sampai-sampai saya tidak bisa menulis.

*fyi, tulisan ini saya tulis pagi esok harinya*

Begitulah.

Penyakit menyebalkan. Oke, saya harus bilang ini penyakit karena dia punya penyebab dan gejala-gejala bodoh saat terkontaminasi. Penyakit menyebalkan ini yang selalu saja menghantui saya. Terkadang malah menjadi penentu sukses atau tidaknya suatu tindakan. Ya, moody adalah nama tengah saya.

Meskipun saya percaya, bahwa ada sebuah cara untuk mengatasinya. Maksudnya, saya tahu bahwa ini bukan hal besar yang perlu dijadikan drama setiap hari. Saya tahu, teori tentang mood yang baik atau mood yang buruk. Sebenarnya semua itu tidak ada. Atau mungkin, bisa dijadikan tidak ada.

Begini, seorang pekerja profesional biasanya tidak pernah meperhatikan hal tersebut. Dia mengerti tanggung jawab akan kewajibannya sehingga mau setidak enak apapun perasaannya, dia tetap bisa menjalani hari seperti biasa. Berbeda dengan saya. Saya, terlanjur mensugesti alam bawah sadar saya bahwa jika tidak berada dalam suasana hati yang enak, apapun yang saya lakukan tidak akan maksimal.

Dan itu fatal.

Sebenarnya, saya selalu mengingatkan diri saya bahwa hal itu harus dilawan. Tapi, saya selalu menyerah karena memang saya tidak tahu caranya. Parahnya lagi, segala macam hal yang tidak mengenakkan hati justru menambah kualitas mood buruk saya.

Sebut saja kemaren itu, kurang tidur, ekspektasi yang melenceng jauh, kemudian cuaca hari itu, dan sayangnya harus berinteraksi dengan muka-muka yang sebenarnya tidak ingin saya temui. Belum lagi di saat ingin istirahat, notifikasi salah satu sosial media membuat saya mengernyitkan dahi dan berfikir banyak hal yang ahirnya malah menambah api ke dalam mood saya. Kemarin, saya dijahati habis-habisan. Atau menurut saya, saya sedang dijahati.

Dan, sekarang masalahnya adalah.. saya tidak ingin ini selalu berulang. Mungkin, pasti berulang karena terkadang siklus hormonal saya yang menjadikannya minimal sebulan sekali ini akan terjadi. Namun, saya sangat berharap bahwa saat itu terjadi saya punya solusi yang bisa dijadikan obat yang ampuh. Atau minimal mengurangi. 

Jadi, ada yang mau sharing tentang “How to Train Your Bad Mood?”

---------
Day 11. *finally checked*
Feeling Awful,
Regards. FDP.