Showing posts with label tentang. Show all posts

[Tentang] Compassion

source : Pinterest

Saya sudah berjanji kepada diri saya sendiri. Ketika ingin menulis, maka saya harus segera menulis tanpa menundanya lagi. Maka, disinilah saya. 40 menit sebelum pergantian angka yang menjadi momok bagi kehidupan saya, saya ingin curhat securhat-curhatnya.

Akhir 2016 sampai sekarang di awal 2017 ini. saya cukup sedih melihat keadaan sekitar saya. Khususnya sosial media. Tiada hari tanpa kebencian yang dilalui disana. Selalu saja ada satu atau bahkan lebih tulisan yang di publish menyuarakan kebencian dan propaganda. Saya yakin, diusut ke atas-atasnya pun ini semua berkaitan. Tidak lain tidak bukan adalah kepentingan politik. Pilkada.

Saya tidak perlu menceritakan detailnya, tapi saya tetap merasa bahwa satu saja yang dibutuhkan untuk semua ini mereda. Compassion. Belas kasih. Dan empati. Hal itu memang sama sekali tidak mudah. Karena itulah, hasil akhirnya indah. Memang, yang indah-indah itu jadi berarti karena tidak mudah digapai.

Compassion.
English to English
noun
1. a deep awareness of and sympathy for another's suffering
source: wordnet30
2. the humane quality of understanding the suffering of others and wanting to do something about it.
source: wordnet30
3. Literally, suffering with another; a sensation of sorrow excited by the distress or misfortunes of another; pity; commiseration.

Mungkin, akhirnya jika disandingkan dengan kosakata Indonesia, Compassion mirip dengan Empati. Empati sendiri adalah kemampuan dengan berbagai definisi yang berbeda yang mencakup spektrum yang luas, berkisar pada orang lain yang menciptakan keinginan untuk menolong sesama, mengalami emosi yang serupa dengan emosi orang lain, mengetahui apa yang orang lain rasakan dan pikirkan, mengaburkan garis antara diri dan orang lain.. Jadi, bisa dikatakan bahwa empati berarti dapat melihat dari perspektif orang lain dan ikut merasakan kebahagiaan atau kesedihan yang dirasakannya, sehingga timbul keinginan untuk mengerti, bahkan menolong orang tersebut.

Masalahnya adalah, belakangan ini kita semua terlalu egois sehingga lupa berempati kepada siapapun. Terutama kepada orang yang berbeda dengan kita. Tidak usah mengelak, saya juga kok. Saya merasakannya ketika kepentingan golongan lebih utama dibandingkan rasa kemanusiaan untuk tetap menilai manusia sebagai makhluk yang setara.

Karena kebanyakan semuanya merasa menjadi yang paling benar. Sehingga yang tidak sependapat dengannya adalah kesalahan besar. Sementara dia lupa, kebenaran itupun sebenarnya bersifat relatif ketika menyangkut kepentingan golongan. Ini pendapat subjektif saya saja, karena jika sebuah pertanyaan terlontar. *anggap saja kalian tau siapa yang saya bandingkan*

Satu orang yang mulutnya kasar, perangainya buruk dan suka mencela, namun beliau adalah orang dalam kelompokmu. Dibandingkan dengan satu orang yang mulutnya kasar, perangainya buruk dan suka mencela, dan dia bukan dari golonganmu.

Kamu akan membela siapa? Ketika keduanya berada didepanmu dan harus kamu selamatkan salah satunya. Ketika yang satu selamat yang satu mati. Kamu akan menyelamatkan siapa? Keduanya bermulut kasar, berperangai buruk dan suka mencela.

Saya yakin lebih dari 50% akan menjawab, orang yang berada dalam golonganmu sendiri. Iya kan? Untuk itu, disinilah empati itu berperan. Kenapa tidak mencoba melihat dari perspektif mereka berdua. Selalu ada latar belakang dari semua masalah. Dan ketika kamu bisa mulai melihat dari sudut pandang mereka, maka semuanya akan terlihat benar.

Kemudian, kamu akan berhadapan dengan hati nuranimu sendiri. Siapa yang akan kamu selamatkan?

Kalau saya? Saya akan menyelamatkan yang membawa kebaikan bagi orang banyak ketika dia diberi satu kesempatan hidup. Yang akan memberikan manfaat kepada orang lain dalam hidupnya tanpa mementingkan dirinya sendiri. Katakan salah pada yang salah dan katakan benar kepada yang benar, tanpa melihat status golongan, ras bahkan agama.

Inilah yang tidak dimiliki oleh masyarakat penghuni sosial media belakangan ini. Yang sudah jelas-jelas tidak punya kerjaan lain selain menebarkan kebencian hingga mencoreng nama baik golongannya sendiri. Tapi, saya sih maklum. Mereka sedang tidak sadar ketika melakukannya, mereka anggap itu benar, tetapi mereka tidak mencoba melihat dari berbagai sudut pandang. Sehingga, apa yang salah di mata mereka, itu pasti salah meskipun sebenarnya akan membawa kebaikan bagi banyak orang.

Hanya saja, mari kembali kepada kebenaran bersifat relatif itu tadi. Ketika semuanya menganggap pikirannya adalah yang paling benar, maka sebenarnya siapa yang paling benar? Kita melupakan satu hal. Salah benar seorang manusia itu di mata negara, adalah berlandaskan hukum yang berlaku. Mari kembalikan kepada hukum saja. Tidak perlu kita yang teriak-teriak ini itu. Percayakan pada peraturan yang sudah ditetapkan. Sehingga ketika dia salah, maka dia salah. Dan ketika dia benar, maka yang terjadi seharusnya adalah kita bisa legowo soal itu semua. Jangan kemudian memaksakan pendapat, merasa bahwa penilaiannya jauh diatas hukum yang berlaku.

Sekalian bikin negara baru aja kenapa, biar gak nyusahin yang lain yang patuh sama hukum yang ada.

Begitulah. Karena berempati adalah pekerjaan berat membutuhkan otak yang luar biasa imajinatif. *saya biasa menyebutnya cerdas* saya memaklumi saja jika tidak banyak yang bisa melakukannya. Saya suka melakukannya, meskipun itu sama sekali tidak berarti saya sedang mengakui diri saya sendiri cerdas, #uhuk.. Karena dengan begitu saya bisa belajar bahwa apa yang terjadi di hidup saya, orang lain bisa mengalaminya 100x lipat lebih buruk. Itu membantu saya bersyukur.

Tapi, harapan saya adalah semoga ini semua segera berakhir ketika pilkada DKI benar-benar usai. Saya harap siapapun yang terpilih nantinya akan mengemban amanah dan menjalankan apa yang paling bermanfaat untuk masyarakat luas. Itu saja.

Dan bagi para netizen yang mendedikasikan hidupnya untuk ngoceh di sosmed *termasuk saya*, saya mohon, dalam waktu luang kalian, belajarlah berempati. Caranya? Mungkin dengan banyak menonton film drama kehidupan. Posisikan diri kalian sebagai penderita. Jika kalian bisa merasakan kesedihannya, kalian sukses menimbulkan bibit empati di dalam diri kalian. Sisanya tinggal berlatih, dan jangan lupa aturan dasarnya. Berguna untuk banyak orang tidak peduli ras, golongan bahkan agama.



Salam.
FDP.
*yang 5 menit lagi akan menginjak tahun ke 29-nya.*



P.S : Tulisan ini banyak disusupi pemikiran seseorang yang menjadi inspirasi saya. Semoga saya terus menjadi manusia yang lebih baik lagi, bahkan untuk manusia lainnya. Terima kasih. :)

[Tentang] Saya, Samarinda, dan Tambang Batu Bara

Samarinda. 

Pesut sebagai lambang kota Samarinda

Kota dengan sejuta mimpi dan sejuta harap. Mimpi untuk menjadi kota besar bebas banjir berdaya wisata tinggi. Serta harap untuk bisa hidup aman tentram tanpa masalah berarti. Tapi, siapa yang bisa menjalani kehidupan di muka bumi ini tanpa masalah? Meskipun begitu, saya yakin masyarakat Samarinda sudah cukup lelah untuk membahas persoalan negatif dari kota kesayangan ini. Namun, saya pun percaya ini tetap harus dibahas. Sampai pada akhirnya semua masalah itu terselesaikan. Semoga saja.

Percaya atau tidak, Samarinda merupakan Ibu Kota Provinsi yang sebagian besar wilayahnya adalah tambang batu bara. Tepatnya 71 % wilayah Kota Samarinda merupakan tambang batu bara. Mari kesampingkan sejenak soal keuntungan bagi pendapatan daerah kota Samarinda. Pertanyaannya lebih kepada, apakah pemerintah Kota Samarinda begitu mudahnya memberikan ijin tanpa memperhatikan tata letak dan ruang untuk pembangunan sebuah kota? Dan kemudian pertanyaanya akan bergulir kepada apakah semua tambang di Samarinda punya ijin yang valid dari pemerintah?

Baiklah, mari kita santai sejenak. Karena terus terang soal perijinan pemerintah, tata ruang kota, AMDAL dan lain sebagainya itu bukan wilayah kekuasaan saya. Saya hanyalah penduduk Samarinda yang mencintai kota ini dengan amatir. Bagi saya, Samarinda bebas banjir, punya banyak ruang terbuka hijau, tidak macet, dan merasa aman meskipun harus pulang malam, adalah perwujudan dari harapan dan mimpi terbesar saya sebagai warga Samarinda. Itu adalah puncak kebahagiaan saya. Namun, belakangan justru Samarinda semakin buruk saja citranya.

***

Tambang.

Ponton berisi muatan batu bara yang melewati Sungai Mahakam.

Bagaimanapun selalu ada dua sisi perspektif dari sebuah masalah. Sebenarnya mau tidak mau saya cukup bangga terhadap kekayaan bumi Kalimantan yang melimpah ruah dan membuat salah satu kabupaten di Kalimantan Timur ini menyandang status Kabupaten terkaya di Indonesia. Karena jika saya bandingkan dengan beberapa wilayah lain di Indonesia, saya termasuk dalam golongan orang-orang yang jemawa akan hal itu. Betapa tidak, ketika saya menyebutkan asal saya dari Kalimantan saja, pandangan mata mereka langsung menyiratkan kehormatan. Sudah biasa dianggap orang kaya, padahal sebenarnya sama melaratnya. Dan itu memang tidak bisa dipungkiri, taraf hidup dan bahkan jumlah penghasilan perbulan untuk profesi yang sama saja bisa jauh berbeda.

Namun, saya juga pernah pergi ke suatu daerah yang kekayaan alamnya diduga juga sangat melimpah ruah. Hanya saja masyarakatnya sepakat untuk tidak mengijinkan adanya kegiatan pertambangan sehingga keadaan alamnya masih terjaga dan sangat indah. Saya kemudian kagum, namun sesaat kemudian maklum. Karena dengan tidak adanya kegiatan eksplorasi, yang biasanya dilanjutkan dengan eksploitasi, daerah tersebut menjadi jauh tertinggal. Baik dalam bidang Ekonomi, Pendidikan, Sarana Prasarana, dan lain sebagainya. Ha! Hidup memang sebuah pilihan bukan? Meskipun, tetap saja ada sebuah daerah yang kekayaan alamnya di gali habis-habisan, dan daerah tersebut sama sekali tidak mendapatkan timbal balik apapun. Ada.

***

Tambang Batu Bara. 

Seperti yang banyak orang juga ketahui, tambang batu bara sangat menguntungkan bagi sebagian besar orang, namun bagian yang menderita justru lebih besar lagi. Saya tahu, mereka para pekerja tambang termasuk dalam kategori penyandang penghasilan diatas rata-rata UMR. Itu pekerja kasarnya. Belum lagi dihitung untuk para pekerja “ringan” yang hanya melihat-lihat saja sudah digaji, entahlah berapa banyak digit yang terlewat dari angka UMR. Pasti lebih banyak lagi. Lalu bagaimana dengan pemiliknya? Sudahlah. Kita sama-sama tahu siapapun pemiliknya, pasti menyandang status Miliarder.

Salah satu conveyor yang langsung mengarah ke Sungai Mahakam.

Tapi, apa kemudian itu semua bisa dibilang keuntungan jika hanya sebagian yang menikmati hasilnya sementara yang lain meratapinya? Biar lebih jelas, mari saya jabarkan poin-poin penting kerugian yang diderita oleh sebagian besar masyarakat Samarinda semenjak tambang meraja memenuhi 71% wilayah Kota Samarinda.
  1.  Tambang Batu Bara itu jahat terhadap Bumi. Dibuktikan dengan proses pengambilan dan pengolahannya untuk menjadi siap pakai. Lahan-lahan diledakkan. Lapisan tanah dibalik. Lubang-lubang dengan diameter hingga beberapa Kilometer dihasilkan. Jangankan indah, saya lebih memilih kata berbahaya untuk menggambarkannya.
  2. Jangan pernah lupakan dulunya diatas lahan yang digarap itu terdapat ratusan makhluk hidup yang membentuk ekosistem. Ketika lahan tersebut hancur, maka makhluk hidup itupun kehilangan rumahnya, keluarganya, bahkan mungkin dirinya sendiri.
  3. Dalam proses pengolahannya untuk menjadi batubara siap pakai, penambangan batu bara juga mengakibatkan polusi air bersih. Kalau di Samarinda, hasil pencucian conveyor batu bara itu meninggalkan sisa-sisa pecahan dan debu batu bara di Sungai.
  4. Sudah coba bayangkan berapa banyak sumber air bersih yang menghilang akibat penambangan batu bara? Termasuk di dalamnya cadangan air tanah dan wilayah resapan air hujan?
  5. Pembakaran batu bara sendiri menghasilkan emisi gas yang dapat merusak lapisan Ozon.
  6. Kegiatan penambangan juga menghasilkan lubang-lubang tambang yang tergenang air dengan kadar keasaman tinggi. Dan perlu diingat, lubang-lubang yang dibiarkan tanpa adanya reklamasi ini sudah memakan banyak korban.
  7. Debu dari kegiatan penambangan yang dekat dengan pemukiman penduduk sangat mengganggu bahkan menyebabkan penyakit salah satunya ISPA.
Dan, saya yakin, selain 7 poin di atas, masih banyak lagi dampak buruk yang dihasilkan oleh Tambang Batu Bara yang merugikan penduduk. Terutama tambang yang tidak jelas perijinannya, tidak jelas kegiatan pasca-tambangnya. tambang yang hanya mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa repot-repot memikirkan bagaimana penanggulangan ketika batu baranya telah habis dikuras.

***

Samarinda dan Tambang Batu Bara.

Peta Tambang Batu Bara di Kota Samarinda. (Sumber : Jatam Kaltim)

Sampai saat ini diketahui bahwa lahan tambang batu bara di wilayah kota Samarinda memakan sekitar 71% dari total luas kota Samarinda. Memang kelihatannya tidak bersinggungan langsung dengan saya yang beraktifitas di kota Samarinda, karena kegiatan sehari-hari saya memang hanya wilayah itu-itu saja. Padahal, daerah sekitaran tempat tinggal saya, yaitu Sempaja, termasuk salah satu wilayah tambang yang besar.

Tempo hari, saya diberi kesempatan untuk melihat lebih dekat. Merasakan secara langsung pengalaman para penduduk yang dirugikan. Yang pada akhirnya bisa membayangkan dengan pasti bagaimana penderitaan mereka sebagai manusia yang bersinggungan langsung dengan tambang. Untuk itu, saya berterima kasih terhadap JATAM karena memfasilitasi saya untuk mendapatkan perspektif baru.

Ada 232 lubang tambang di Samarinda yang masih belum jelas statusnya bagaimana. Dan mari mengingat yang telah lalu, sampai 2016 kemarin tercatat 15 anak yang meninggal di lubang tersebut. Dan ada 15 keluarga yang berduka namun belum mendapatkan kejelasan apapun dari pihak perusahaan tambang selain ungkapan belasungkawa. Pemerintah? Ambil sisi baiknya saja, mungkin pemerintah terlalu sibuk memikirkan hal lain sehingga masih sanggup menutup sebelah mata untuk kasus ini. Yap. Untuk 15 kasus ini.

Saya diberi informasi mengenai banyaknya perusahaan tambang yang bekerja di Hulu Sungai Karang Mumus. Totalnya 21 perusahaan dan 11 diantaranya masih aktif. Saya yakin, 10 diantaranya yang sudah tidak aktif tidak ambil pusing mengenai hal reklamasi. Karena sampai sekarang tidak ada kabar lebih lanjut mengenai itu. Apakah masih akan proses? Atau hanya seperti tamu yang tidak tahu diri, dipersilahkan masuk, merusak, dan kemudian pergi bersama angin? Entahlah, saya hanya bisa berandai-andai.

Dari kiri : Pak Baharudin - Pak Komari - Ibu Rahmawati

Dalam kesempatan kunjungan langsung ke tempat yang berbatasan langsung dengan Tambang Batu Bara, saya dan beberapa rekan penulis lain dibawa ke Makroman. Salah satu wilayah yang dibanggakan Samarinda atas jerih payah warganya mengedepankan bidang pertanian dan perkebunan di sana. Makroman merupakan salah satu penyumbang terdepan untuk beras di wilayah Samarinda. Sayangnya, hal yang dibanggakan ini harus rusak rutinitasnya akibat tambang batu bara.

Saya kemudian dipertemukan dengan bapak Baharudin, ketua kelompok tani di Makroman yang rumahnya dekat sekali dengan lahan tambang dari CV. Arjuna. Beliau salah satu warga yang paling aktif dalam memerangi tambang. Karena bagaimanapun tambang tersebut akhirnya merusak sumber pendapatannya.

Lahan pertanian yang berbatasan langsung dengan wilayah tambang

Diketahui, sejak 2008 perusahaan tambang ini beroperasi. Dan memusnahkan pasokan air bersih untuk kebutuhan lahan pertanian warga. Sehingga sekarang, dalam proses penanaman padinya, air yang digunakan adalah air dari danau lubang tambang di dekat sawah mereka. Otomatis dengan air hasil lubang tambang yang mengandung mineral-mineral yang berdampak buruk bagi makhluk hidup, hasil dari pertanian tersebut merosot drastis.

“Dulu sebelum ada tambang hasil panen kami bisa mencapai 7 ton beras, kalau sekarang paling banyak 3,5 ton. Belum lagi kolam ikan saya kalau musim hujan dan limbahnya turun, Desember ini saja indukan ikan Nila di satu kolam itu mati semua, sekitar 300-500 ekor. Dan tidak ada ganti rugi dari pihak perusahaan.” Katanya.

Saya juga bertemu salah satu petani yang menggarap sawah di wilayah itu juga. Bapak Komari yang sudah bertani sejak tahun 1985 Makroman. Beliau juga merasa bahwa hasil pertaniannya berkurang jauh dan semakin sulit saja semenjak ada tambang. Penghasilannya sekarang hanya cukup untuk makan keluarga. Sangat memprihatinkan sebenarnya, namun apakah perusahaan tambang melihat itu? Tidak. Mereka mungkin melihat, tapi mereka tidak peduli. Pemerintah? Sudahlah, saya tidak ingin berkomentar lebih jauh lagi.

Lubang bekas tambang di Makroman

Selain itu, saya juga dibawa menuju wilayah Sempaja menemui Ibu Rahmawati. Seorang ibu dari 4 orang anak yang harus rela kehilangan anak nomer 2 karena tenggelam di lubang tambang. Tidak ada yang lebih perih bagi orang tua daripada melihat kematian anaknya sendiri.

“Seperti badai di siang bolong ketika mendapat kabar tersebut. Saya tidak pernah menyangka anak saya tenggelam di sana. Padahal anak saya jarang main di kolam karena memang tidak bisa berenang.” Kata Ibu Rahmawati.

Selain tidak ada tanda larangan mendekat, PT. Graha Benua Etam sepertinya tidak mau repot-repot mengurusi bekas “mahakarya”-nya. Setelah kejadian itupun, tanda larangan baru dipasang. Dan kemudian setelah beberapa waktu berlalu lubang itu ditutup, diuruk asal-asalan.

“Sampai sekarang tidak ada perwakilan dari pihak terkait mengenai tindak lanjut masalah anak saya yang menjadi korban. Saya akan terus berjuang menuntut keadilan untuk itu. Agar nantinya tidak ada lagi yang bernasib seperti saya.” Lanjut Ibu Rahma.

Ditanya mengenai harapan lebih lanjut untuk wilayah pertaniannya di Makroman, bapak Komari tidak berkomentar apa-apa. Mungkin harapan sudah hilang dari benaknya, digantikan dengan cara-cara untuk bertahan hidup ditengah ketidak adilan tersebut. Sementara bapak Baharudin menegaskan akan terus berjuang melawan Tambang. “Saya akan bertahan, sampai titik darah penghabisan.” Tegasnya.

***

Saya, Samarinda, dan Tambang Batu Bara.

Lubang bekas tambang di Bengkuring

Begitulah. Persoalan tambang ini memang menyangkut harkat hidup orang banyak. Semua terkait dari petani hingga pemerintah. Lalu jika ingin dirunut lagi, siapa yang harus dipersalahkan? Pemerintah yang tidak tegas dan mengambil untung dari ini? Perusahaan yang semena-mena? Atau mungkin masyarakat yang salah ruang dan waktu berada dalam lingkupan drama pertambangan ini?

Terus terang, saya pun dalam ruang berpikir saya yang terbatas, rasanya ini semua menemui jalan buntu. Apa yang sudah diambil tidak bisa dikembalikan lagi. Apa yang sudah terjadi tidak bisa dihentikan lagi. Bola salju ini sudah menggelinding terlalu lama dan entah kapan akan berhenti menyisakan kerusakan yang tidak bisa dibenahi lagi. Selalu ada dua sisi mata uang, selalu ada dua sudut negatif dan positif dalam segala hal. Dan selalu ada resiko di setiap pilihan.

Mungkin, kedepannya yang bisa dilakukan adalah ajakan untuk menyerukan protes dan penegasan terhadap semua perusahaan tambang yang lalai. Sampai kapan? Sampai suara Bapak Baharudin, Bapak Komari dan Ibu Rahmawati bisa didengar oleh seluruh negri. Bahwa ratapan itu suatu saat bisa jadi ratapan mereka juga. Sampai Pemerintah sadar dan mulai memperbaiki apa yang telah dihancurkannya. Sampai Pemerintah memperhatikan kondisi rakyatnya yang menjadi korban. Mungkin akan memakan waktu yang sangat lama, berhubung ini semua seperti rantai yang berbelit dan tidak terputus. Namun, setidaknya kita berusaha.

Hingga Samarinda menjadi tempat tinggal yang lebih baik lagi.


Salam hangat dari warga Samarinda,
Frisca Putri.


Note : Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba #TulisCeritaKotamu dan didedikasikan untuk Bumi Pertiwi dalam merayakan hari Bumi.

[Tentang] Satu Kebaikan dan Sebuah Pengharapan.

Tentang sebuah lingkaran setan yang dari dulu tidak pernah saya temukan bagian mana yang benar bagian mana yang salah. Seperti sebuah pertanyaan yang selalu menjadi bahan perbincangan yang tak kunjung usai.

"Duluan mana, Ayam atau Telur?"

Mungkin kurang lebih kasusnya sama. Sama-sama terlalu sulit difikirkan jalan keluarnya jika hanya menggunakan logika manusia, atau dalam kasus ini, logika saya. Seringkali saya berfikir hal ini, namun selalu menemui jalan buntu. Selalu kembali kepada pertanyaan lainnya.

Mungkin ini tentang para pemberi harapan palsu itu, dan para korban yang merasa teraniaya karenanya. Tentang mereka yang selalu tersenyum manis kepada semua orang, namun, bagi salah satu diantaranya, senyum itu spesial. Padahal sebenarnya tidak.

Pertanyaannya kemudian adalah, apakah para pemberi kebaikan ini melakukan hal yang salah. Begitu salahnya hingga kebaikannya menimbulkan luka dalam hati orang lain? Bagian mananya yang salah? Bukankah sebuah kebaikan apapun itu, tidak pernah salah?

Namun, siapa yang bisa menyalahkan ketika kebaikan itu begitu membekas dihati seseorang sehingga timbul perasaan berbeda kepada sang pemberi kebaikan. Jatuh cinta, misalnya. Karena jatuh cinta sendiri berarti.. 

"memupuk pengharapan kepada siapapun itu. Berharap dibahagiakan. Berharap diberi kasih sayang. Berharap bisa bersama."

Dan karena saya masih bersikukuh tentang sebuah kebaikan apapun itu bentuknya, tidak pernah salah. Maka penilaian saya tentu berat kepada sang pengharap. Itu salahnya, kenapa tidak bisa menahan diri untuk tidak berharap? Bukankah kita semua paham pentingnya Tahu Diri?

Tapi sekali lagi, siapa yang bisa menyalahkan orang yang jatuh cinta? Mereka kehilangan logika dan hanya bertindak mengikuti hasrat dalam kepala mereka. Siapa yang bisa pintar ketika jatuh cinta? Dan siapa yang bisa menghentikan ketika cinta itu datang. Apalagi datangnya dari kebaikan yang selalu diterima dari sang pemberi kebaikan.

Sehingga, sekali lagi. Ini menemui jalan buntu. Tidak ada yang bisa dilakukan. Dan disalahkan. Masing-masing menjalani perannya dengan baik, bukan?

Mungkin sebenarnya yang perlu dikhawatirkan adalah kejadian setelah itu. Apakah sang pemberi kebaikan bisa bertanggung jawab terhadap hasil dari kebaikannya. Ataukah sang pengharap yang hendaknya mulai tahu diri untuk tidak membuat sang pemberi kebaikan menjadi tokoh antagonis dengan menghentikan pengharapan yang tidak berujung?

Entahlah. Drama ini tidak akan selesai jika bukan kita sendiri yang mengalaminya. Hanya saja, saya ingin memberikan pemahaman bahwa antara satu kebaikan dan sebuah pengharapan, semuanya sah-sah saja terjadi. Namanya kita manusia, itu tidak bisa dihindari.

Yang perlu diperhatikan hanya, mau berada di posisi mana? Pemberi kebaikan atau penaruh pengharapan? 

Silahkan difikirkan dengan tenang. :)

Kediri, 11.43 PM.

[Tentang] Insomnia



Insomnia menurut Kamus kesehatan adalah gangguan di mana orang tidak dapat mendapatkan cukup tidur atau tidur yang restoratif, karena satu atau lebih faktor. Penderita insomnia sering memiliki gejala di siang hari yang terkait dengan kurang tidur, seperti kantuk di siang hari, kelelahan, dan penurunan kewaspadaan mental.

Sementara menurut KBBI,

Insomnia : (nomina) keadaan tidak dapat tidur krn gangguan jiwa.

Silahkan digaris bawahi bagian “gangguan jiwa”-nya.

Sementara itu, Insomnia bisa dibagi menjadi beberapa bagian. Ada dua jenis utama insomnia: insomnia akut (insomnia transien) yang terjadi selama periode yang cukup singkat dan insomnia kronis, yang gejalanya lebih lama (umumnya lebih dari satu bulan).

Insomnia juga dapat diklasifikasikan sebagai primer atau sekunder. Insomnia primer adalah gangguan yang tidak dapat dikaitkan dengan kondisi atau gangguan lain. Insomnia sekunder dapat ditelusuri ke sumber lain, yang mungkin adalah kondisi medis, penggunaan obat-obatan, alkohol atau zat lain, atau gangguan mental seperti depresi berat.

Dan kali ini, silahkan mulai menggaris bawahi “gangguan mental seperti depresi berat.” *LOL*

Jadi, maksud saya disini adalah saya ingin menekankan bahwa insomnia kebanyakan terjadi karena gangguan menta, gangguan jiwa atau semacamnya.  Meskipun saya bukan penderita yang akut karena hanya terjadi kadang-kadang saja. Ya, kadang-kadangnya itu pas-pasan waktu lagi menderita gangguan mental.

Atau gangguan jiwa.

Atau sedang jatuh cinta.

Atau sedang patah hati.

Saya baru benar-benar merasakannya semalam saat insomnia itu terjadi bukan karena gangguan jiwa. Dan saya sadar. Dan itu menyebalkan. Maksudnya, saya sadar saya mengantuk dan butuh tidur, namun otaknya terlalu bersemangat sehingga kehilangan kemampuan untuk meregangkan kesadaran saya supaya terlelap dalam keheningan malam.

Dan itu menyebalkan. Karena sungguh saya membutuhkan tidur.

Bayangkan, rasanya tubuh ini sudah lelah, biasanya dengan mengatur napas seadanya langsung akan terbang menghilang menuju dimensi lain. Namun ini, otak saya merespon dengan baik apapun yang saya lakukan. Nafas saya yang sengaja diatur. Perasaan selimut yang menyentuh kaki saya. Bahkan, saya bisa merasakan pasir-pasir kecil yang menahan tubuh saya di atas kasur. Hal-hal kecil seperti itu jadi sangat mengganggu dan membuat otak semakin tidak bersahabat.

Yang saya takutkan adalah karena malam itu panjang. Dan otak saya aktif. Saya takut kalau akhirnya saya terseret kedalam pikiran-pikiran yang tidak menyenangkan sampai pagi. Kasihan sekali jiwa saya kalau begitu. Belum lagi mood buruk yang akan menyertainya sehari kedepan. Dan belum lagi gangguan mentalnya. Serius loh, fokus berkurang saat kita kurang tidur, dan itu sangat-sangat membahayakan jiwa.

Tapi syukurlah, setelah memaksakan beberapa saat, saya mulai terlelap.

Kemudian, saya ngeri memikirkan bagaimana dengan dia yang mempunyai gejala insomnia akut dan kemudian jatuh cinta atau malah patah hati.

Ah, sudahlah.

---------
Day 15. *checked*
Feeling Okay,
Regards. FDP.


[Tentang] Cemburu


Cemburu adalah salah satu penyakit hati yang lain. Saya menyetarakan rasa cemburu dengan Iri hati, dengki dan dendam. Dan bagi saya, cemburu adalah hal paling sia-sia nomer dua, karena nomer satunya adalah rindu.

Gejalanya pun sama. Sama-sama membuat kesal saat didiamkan, sia-sia saat terungkapkan. Menambah sesak di dada. Semua serba salah. Dan benar-benar menjadi asupan yang buruk untuk mood sehari-hari. Tidak akan puas sampai diluapkan dengan caranya masing-masing. Ada yang baik hanya dengan memendamnya atau mengungkapkannya begitu saja, ada yang dengan menangis, bahkan ada yang sampai mengamuk hingga puas.

Cemburu itu tanda sayang, katanya.

Yea, right. Sangking sayangnya mungkin, sampai-sampai ada sebuah kasus pembunuhan berdasarkan cemburu. Dan lebih parahnya lagi, yang dibunuh bukan orang yang sedang selingkuh, tapi pasangannya sendiri. Oke itu Bego. Kemudian dia sendiri atas nama cinta lalu membunuh dirinya sendiri. BAM! Bego pangkat dua untuk dia.

Cemburu itu tanda memiliki, katanya.

Sejak kapan manusia bisa memiliki satu sama lain? Sejak kapan soal milik-memiliki ini dianut oleh pasangan-pasangan bodoh yang tidak mengerti hakikatnya dan menjadi dasar dari pemikiran bodoh ini. Lah, terkadang yang sudah menikah saja tidak bisa memiliki pasangannya seutuhnya. Ini benar-benar sebuah pernyataan yang absurd.

Cemburu itu karena peduli, katanya.

Iya. Terus sajalah kalian semua melakukan penyangkalan. Mencari-cari pembelaan terbesar karena malu mengakui hal yang sesungguhnya.

Karena bagi saya, Cemburu adalah tanda insecure.

Insecure dalam arti merasa orang yang membuat dia cemburu memiliki kualitas hidup jauh lebih tinggi dari dirinya, sehingga mulailah muncul ketakutan berlebih. Takut, apa yang dianggap miliknya akan berpaling ke orang tersebut. Cemburu hanyalah kiasan lain dari iri hati, iri karena dirinya tidak bisa berada di titik orang itu tinggal. Kembali lagi ke kualitas diri.

Orang yang merasa memiliki kualitas diri yang tinggi, tidak akan semudah itu mengatakan cemburu. Apalagi sampai posesif. Dia tidak akan mengekang pasangannya karena dia tahu pasti, bahwa tidak ada yang bisa membuat pasangannya berpaling karena kualitas dirinya sudah oke. Dan tentunya hal ini dilakukan kepada pasangan yang layak. Maksudnya, pasangan yang bisa menjaga kepercayaannya, bukan pasangan yang emang kegatelan comot sana comot sini.

See?

Maka dari itu, saya bilang. Cemburu adalah hal sia-sia yang buang-buang tenaga. Namun, sayangnya tidak banyak yang mengerti ini. Malah, pasangan-pasangan itu sibuk mencemburui siapa yang dekat dengan pasangannya, dengan siapa mereka hang out. Bukannya malah menyibukkan diri dengan meningkatkan kualitas diri.  

What a waste.

Bahkan, sepertinya mereka lebih menyukai ide bahwa siapapun teman pasangannya yang single maka mereka adalah ancaman. 
Oke, itu super duper bodoh.

Saya bukannya tidak pernah merasa cemburu. Bagaimanapun, perasaan insecure itu pasti ada. Namun, saya bisa mengatasinya dengan cepat. Dengan sebuah sugesti.

"Saya adalah wanita menarik yang mempunyai banyak hal baik yang menjadikan dia memilih saya. Saya punya banyak hal yang tidak dipunya orang lain. Dan saya tidak punya waktu untuk meratapi apa yang tidak saya punya. Karena saya sibuk memberikan waktu saya kepada hal yang jauh lebih bermanfaat.”

Dan kemudian saya akan tersenyum, dan berlalu begitu saja.

Ingat, tidak ada orang yang suka dikekang, dicurigai berlebihan. Itu saja. :p

---------
Day 14. *checked*
Feeling Pensieve,
Regards. FDP.

[Tentang] Travelmate



Travelmate bagi saya adalah sebuah komponen penting dalam sebuah perjalanan. Karena pada akhirnya travelmate yang paling besar menentukan apakah sebuah perjalanan tersebut akan menjadi menyenangkan atau tidak. Ya. Bagi saya, pengaruh travelmate sebesar itu.

Katakan saja begini. Perjalanan yang akan dilakukan sudah dibuatkan detail sebaik mungkin. Mulai dari tempat tujuannya, transportasinya, akomodasinya, apa saja yang akan dijelajah, dan lain sebagainya. Semuanya sudah mantap, semuanya sudah oke. Namun, kemudian travelmatenya sama sekali tidak mendukung. Tentu saja perjalanan tersebut akan menjadi suram.

Iya, suram.

Dalam sebuah perjalanan, travelmate itu akan menjadi orang yang lebih dekat dengan kita daripada keluarga sendiri. Atau mungkin bahkan pacar sendiri. Travelmate yang mengerti dan fun, pastinya bisa menjadi mood booster sendiri. Karena setiap perjalanan tidak pernah bisa sempurna, dan saat tersandung hal yang membuat murung, travelmate harus selalu bisa membuat senyum kembali terkembang.

Saya bukan tipe orang yang suka jalan sendirian. Karena, berjalan sendirian sama saja menggali kuburan sendiri. Saya suka berdiskusi apapun dengan siapapun, sehingga jika jaan sendirian, otomatis saya akan kembali ke media sosial. Percuma jalan-jalan dong kalau begitu. Ya kan?

Travelmate menjadi begitu penting untuk ada selain sebagai teman seperjalanan selama petualangan berlangsung, travelmate juga menjadi seseorang yang mampu ber-euforia bareng setelah sampai lagi ke kampung halaman. Travelmate akan dengan senang hati mengenang keindahan dan keseruan perjalanan terakhir.

Travelmate juga menjadi saksi penguat akan cerita hebat yang dilalui dalam perjalanan tersebut. Bayangkan jika tidak ada saksinya saat kita melintasi sungai penuh buaya, atau menyebrangi jembatan gantung setinggi 30 meter. Siapa yang bisa percaya? Mau selfie sendirian? Oke, itu terlalu menyedihkan.

Sebegitu pentingnya fungsi travelmate, sehingga kita harus benar-benar memilihnya dengan baik. Bahkan Travelmate mungkin satu level setara dengan Soulmate. Meskipun, travelmate sifatnya sementara. :D Musti cocok-cocokan sama diri sendiri. Jangan sampai ntar liburan yang harusnya fun jadi malah kacau.

Travelmate yang baik itu : Berekspektasi sesedikit mungkin tentang tujuan perjalanan. Tidak suka mengeluh ini dan itu. Bisa menikmati perjalanan bagaimanapun bentuknya. Bisa menjadi mood-booster yang baik untuk temannya. Punya tujuan yang sama. Dan mandiri. Lebih bagus lagi kalau dia suka ngebawa snack-snack tambahan buat ngemil bareng. :P

Dan kalau itu sudah terpenuhi, yuk, ajak saya berpetualang. ;)


---------  
Day 9. *checked*
Feeling Ordinary,
Regards. FDP.