Kucing Itu Memilihmu. Bukan Kamu Yang Memilih Kucingmu.



Kucing.

Siapa yang tidak mengenal makhluk kecil berbulu yang menggemaskan ini? Sebagian bahkan memujanya, termasuk saya, sebagian lagi mencemoohnya. Kadang saya suka bingung terhadap mereka yang mempunyai rasa traumatis sendiri kepada kucing. Padahal, dibanding manusia kucing itu tidak berdaya apa-apa. Sehingga rasa takut yang disebabkan oleh kucing sangat tidak masuk akal buat saya.

Ada sebuah teori yang tidak sengaja saya baca -atau mungkin saya dengar- di suatu artikel. Bahwa kucing sebenarnya bukan hewan yang bisa kita pelihara begitu saja. Berbeda dengan anjing, anjing adalah mesin pecinta alami. Sekali saja kamu menunjukkan kasih sayang kepada mereka, mereka akan mencintaimu seumur hidup mereka. Jika kamu bisa memilih anjing mana yang mau kamu bawa pulang, namun kucing tidak.

Kucing yang memilihmu.


Sebenarnya saya percaya bahwa kucing memang makhluk angkuh penuh kesinisan dalam menjalani hidup ini. Kucing juga makhluk yang penuh kebebasan. Termasuk dalam bersikap. Ada beberapa kucing yang memang bisa dilatih. Tapi kebanyakan tidak. Mereka tidak pernah ambil pusing dengan peraturan. Yang mereka tau adalah bagaimana cara meminta makan yang baik dan tepat sasaran. Dan bagaimana cara mendapatkan kasih sayang dari pemiliknya.

Tidak. Maksud saya adalah, kucing yang memilikimu.

Kucing itu memang makhluk paling mengerti akan kecantikan dan keanggunannya. Dan mereka tau bagaimana cara menggunakan aset tersebut untuk menguasai manusianya. Sebut saja, bagaimana dia menggelendot manja di kakimu sambil memancarkan binar pengharapan dari kedua matanya yang bulat dan berpendar-pendar. Siapa yang bisa menolak wajah polos itu. Tentu saja, sebagai pemeliharanya, kamu pasti akan memberikan apa yang dia mau.

Ketika dia ingin disayang, dia akan mendekatimu. Ketika dia bosan disayang, dia akan pergi begitu saja. Dipanggil seperti apapun dia tidak akan menoleh, tapi ketika dia memanggilmu, dari sudut ruangan paling jauhpun kamu akan mendatanginya dengan segera.

Lalu, siapa yang memiliki siapa kalau begini?

Manusia sering jemawa berkata memiliki beberapa kucing dirumahnya yang bisa menghiburnya ketika dia sedih. Kenyataannya adalah kucing lah yang memilih akan berada di rumah siapa untuk tidur dan meminta makan. Apa kamu bisa melarangnya? Tidak. Ingat, mereka tidak mengenal aturan. Kebebasan adalah prinsip dasar para kucing.

Kucing yang mau tinggal denganmu adalah kucing yang memilihmu menjadi pengasuhnya. Jika dia merasa tidak puas dengan pelayananmu dia bisa saja meninggalkanmu pergi tanpa ampun. Kucing itu jahat, meskipun beberapa memang setia. Tapi, saya tetap percaya itu hanya karena kamu melayaninya dengan baik, sehingga dia memilih untuk tinggal.

Namun, meskipun begitu, meskipun diperbudak tanpa pamrih oleh para keparat kecil tersebut, meskipun kadang jengkel ketika mereka menghambur-hambur barangmu, atau bahkan suka iseng buang air sembarangan, kamu tetap akan memaafkannya bukan? Karena, semua kenakalan itu setimpal dengan kenyamanan yang mereka berikan. Karena, tatapan mata penuh pesona itu yang akan kamu rindukan ketika jauh dari rumah. Meskipun anjing memang lebih setia, namun kucing mempesona. Dan semua hal-hal buruk yang kucing lakukan, akan luruh ketika mereka mendengkur pelan dan mengeong manja. Kamu tidak bisa marah kepada yang kamu cintai. Para kucing mengetahuinya, dan memanfaatkannya dengan benar.

Karena mereka sudah memilihmu. Dan kamu pun bahagia karena mereka memilihmu. Bagi saya, itu terlihat sebagai simbiosis mutualisme. Siapa yang akan memperbudak siapa, itu tidak masalah. Karena cinta selalu begitu. Karena cinta tidak peduli itu semua. Seperti saya yang terjebak oleh cinta 3 ekor kesayangan saya.

Besok-besok akan saya ceritakan di sini. My Three MusCATeers. :D

Salam sayang,
Dari Io, Titan juga Artemis.
Dan FDP juga. :)

300 Kata : My Alter Ego



Holla!

Saya terpaksa menulis satu post yang gak penting ini karena tuntutan dari desain layout baru yang barusan aja saya ganti. [tercatat 14 Januari 2017, pukul 9 PM] Yes. I guess I'm getting serious about this writing things. Blog ini merupakan alter ego saya sebagai blogger yang emang dari jaman dahulu kala sekali ketika pertama kali nge-blog, tidak pernah jelas ingin dibawa kemana tulisan-tulisan saya ini.

Aniway, 

Alter ego (bahasa Latin yang berarti "aku yang lain") merupakan diri kedua yang dipercaya berbeda daripada orang kebanyakan atau kepribadian yang sebenarnya. Istilah ini dipakai pada awal abad kesembilan belas ketika gangguan pemecahan kepribadian pertama kali dijelaskan oleh psikolog.
Jadi, bukan berarti saya berkepribadian ganda ya, tolong dicatet. Sebenarnya 300 Kata sendiri adalah bagian dari diri saya. Mengingatkan saya bahwa soal konsistensi menulis itu memang berat. Bisa dilihat dari kapan saya mencoba konsisten, dan bisa dilihat juga hasilnya sekarang apa. :D

Ini adalah deskripsi utama 300Kata bagi saya.

Tantangan terhadap diri sendiri untuk bisa konsisten posting minimal 300 kata setiap hari, tentang apapun, tentang siapapun, tentang dunia, tentang kamu, tentang kita, tentang semua.

300 Kata, pada dasarnya adalah wadah saya untuk terus bisa menuangkan pikiran-pikiran saya yang liar dan memenuhi kapasitas otak. Inginnya, semua pikiran yang gak tentu arah ini tidak mengganggu stabilitas kerja otak saya yang suatu saat nanti saya yakini bisa menimbulkan penyakit kejiwaan jika dibiarkan. Kita semua pasti punya sebuah sarana untuk membiarkan diri kita tetap waras. Dan untuk saya, kebetulan saja hal itu adalah menulis.

Kemudian, 300Kata sendiri mempunyai 3 tema utama yang bahkan saya buatkan navigasi menunya untuk memudahkan. Yaitu [tentang] yang berisi pandangan saya dalam mengartikan sesuatu. Tidak melulu deskriptif dan obviously subjective. Jadi, saya harap semua postingan [tentang] saya jangan dimasukkan sebagai referensi tulisan apapun yak. :D

Lalu ada Random yang diakui sebagai buah dari "pemikiran liar". Ayolah.. energi negatif itu harus dibuang. Dan saya juga sedang berusaha membuat postingan Fiction, yang biasanya merupakan harapan-harapan terselubung saya terhadap sebuah kejadian. Atau kehidupan saya.

Dan sejak 2017 ini, saya terobsesi dengan keinginan untuk bisa menulis dalam bahasa Inggris. Jadi, saya buat seksi English sebagai wadah latihan saya. Dan saya dengan senang hati menerima masukan. Tolong ketika ada salah penulisan, dikoreksi aja. [yakali, kaya ada yang baca] sementara masih nol tulisan. Semoga bulan depan udah pede nulis dalam English. Ehe.

Well. Begitulah. Saya akan berusaha untuk konsisten. Jadi, selamat menikmati. :)


Salam hangat,
FDP.


Cerita Tentang Sang Putri, Seekor Kucing dan Bunga Dandelion.[Chapter : 1]

Pada suatu masa, hiduplah seorang putri yang tinggal dalam kastilnya yang mungil di dalam hutan, seorang diri. Sang putri yang selalu tersenyum manis itu tidak pernah mengeluh akan kesendiriannya, namun jauh di dalam lubuk hatinya dia tahu, dia sudah mulai lelah untuk selalu tersenyum. Tetapi, dia pun tahu, akan ada banyak pohon yang bersedih jika dia tidak tertawa, dan akan ada banyak kelinci, rusa kecil dan burung yang berduka ketika dia tidak menyandungkan lagu-lagu bahagia.

Dan dia pun takut, ketika dia berhenti tersenyum, dia tidak akan bisa tersenyum lagi. Padahal, itu satu-satunya cara agar hutan tersebut tetap terjaga dengan indah.

Suatu hari, ketika ia sedang berjalan menyapa satu persatu pepohonan yang rindang di sekeliling istananya seperti biasa, dia menemukan seekor kucing yang menatapnya di balik pohon yang paling besar. 

Ketika Putri hendak mengulurkan tangannya untuk menyapa, sang kucing mendesiskan ancaman yang menyiratkan sebuah penolakan. Sang putri bergeming.

"Wahai kucing malang, apakah kamu sedang tersesat? Kemarilah, aku tidak akan melukaimu." Sapa Sang Putri, lembut.

Kucing tersebut masih menatap dari balik pohon dengan tatapan yang meragukan. Namun, karena senyuman sang Putri dan kehangatan yang terpancar dari balik tangannya yang menggapai, sang kucing memberanikan diri keluar dari persembunyiannya.

"Aku tidak tersesat. Aku hanya seekor kucing pengelana yang pemalu. Hutan indah ini menarikku masuk, dan aku tidak pernah tahu kalau akan ada manusia disini. Aku benci manusia." Kata sang kucing.

Sang Putri kembali tersenyum.

"Aku juga membenci mereka. Mereka makhluk yang egois. Kau pikir, kenapa aku mau tinggal di sini, seorang diri?" Tangan sang putri masih tergantung di sana, menunggu sang kucing untuk menyambutnya.

Ragu-ragu, kucing akhirnya menyambut uluran tangannya. Cepat saja. Mungkin di dalam hatinya masih ada perasaan waspada. Namun, dengan sigap sang Putri menarik sang kucing untuk duduk di pangkuannya.

"Jika kamu tidak mempercayai manusia, kamu cukup percaya padaku saja. Aku tidak akan pernah menyakitimu."

Dan itu menjadi awal mula persahabatan antara sang Putri dan Sang Kucing.

***

Renungan Akhir Tahun 2016


"Time won't make you forget. It'll make you grow and understand things."
Hai, bertemu di penghujung tahun. Entah apa yang menghalangi saya menulis, namun, ya, tahun ini saya sedikit sekali melimpahkan keluh kesah dalam sebuah tulisan. Seperti misalnya saya yang selalu saja berekspektasi sedikit berlebihan dan kemudian kecewa. Mungkin sebenarnya saya hanya tidak ingin tulisan saya berkutat di itu-itu saja. Dengan kondisi kejiwaan yang tidak berkembang, sehingga tulisan saya penuh dengan aura negatif.

Baiklah, malam ini saya tidak ingin terseret kesedihan. Jadi curhatnya harus berhenti sampai sini.

Kemudian, bagaimanapun soal penghujung tahun selalu menyisakan sedikit kesedihan dalam hati. Karena tahun ini akan pergi dan tak kembali. Padahal, sebenarnya setiap hari, setiap jam dan setiap detik yang pergi tidak akan mungkin kembali. Lalu, kenapa sedihnya hanya hari ini?

Sebenarnya kesedihan itu adalah representatif dari rasa kesal karena harus menua. Saya mungkin bisa mengerti perasaan artis yang bersikeras mengusahakan mati dengan cara yang salah ketika mereka sedang berada dalam puncak popularitas karena ketakutan mereka untuk bertumbuh dan ketakutan mereka untuk kehilangan.

Karena, jujur saja. Saya pernah merasakan ketika berada dalam puncak kebahagiaan saya, saya ingin waktu saya berhenti sampai situ saja. Namun tidak. Waktu itu jahat. Dia tidak peduli siapapun. Dia hanya terus berjalan saja menyeret kita semua, mau atau tidak, rela atau tidak, sampai akhirnya sisa waktu kita habis. Kemudian, kebahagiaan itu pun menurun bekasnya melalui waktu. Terkikis perlahan-lahan dengan perasaan lain, dan kemudian menghilang.

Siapa yang siap akan kehilangan? Tidak ada yang pernah siap dengan perpisahan. Tidak di mulut, tidak pula di hati. Namun, sekali lagi, waktu tidak peduli. Dia hanya akan terus berjalan maju meninggalkan semuanya, dan menyeret segalanya untuk tetap ikut dalam arusnya. Tidak apa, itu tugasnya. Memang harus seperti itu.

Tapi, sebenarnya waktu juga baik. Karena dengan adanya waktu, kita bisa memiliki harapan. Memiliki kepercayaan terhadap keajaiban masa depan. Memiliki keinginan dan memacu untuk lebih sabar menunggu sesuatu yang lebih indah. Padahal, kita tidak pernah tahu apa waktu akan membawakannya atau tidak. Setidaknya, bagi manusia ini, mereka tidak kehilangan harapan dan itulah yang membuat mereka lebih kuat.

Waktu juga menyulitkan saya. Tepatnya, nanti dia akan sangat mempersulit hidup saya. Ketika saya harus menghadapi kenyataan, memilih antara yang tercinta atau yang paling dicinta. Yang satu digenggam, yang satu akan menghilang. Saya tahu, 2017 tidak akan mudah bagi saya. Tapi, setidaknya ruang hati saya masih percaya pada harapan. Bahwa waktu tidak akan peduli kepada luka saya, dia akan terus konsisten dengan detaknya. Dan saya, berharap bisa menitipkan duka saya dalam lantunan arusnya.

2016.

Terima kasih atas semua kebahagiaan, obsesi yang terpenuhi, rasa cinta, kasih sayang, permusuhan, kegagalan, dan banyak hal lainnya. Terima kasih sudah membuat saya bertumbuh, dan berkembang. Meskipun mungkin kedewasaan saya kali ini hanya berubah lebih banyak seujung kuku daripada sebelumnya. Tidak apa, kadang, selain menua saya juga takut menjadi semakin menyebalkan karena sok tahu. Tapi, saya akan menganugerahkan predikat tahun terbahagia saya di 2016. Karena sudah sepantasnya begitu. Terima kasih.

2017.

Saya tidak akan berharap banyak. Tapi, saya akan berjuang. Mungkin tidak akan jadi anak manis selama setahun penuh, namun saya akan berusaha semampunya.

Selamat Tahun Baru 2017.
Semoga semuanya menjadi lebih baik.

Salam,
FDP.

[Tentang] Saya, Samarinda, dan Tambang Batu Bara

Samarinda. 

Pesut sebagai lambang kota Samarinda

Kota dengan sejuta mimpi dan sejuta harap. Mimpi untuk menjadi kota besar bebas banjir berdaya wisata tinggi. Serta harap untuk bisa hidup aman tentram tanpa masalah berarti. Tapi, siapa yang bisa menjalani kehidupan di muka bumi ini tanpa masalah? Meskipun begitu, saya yakin masyarakat Samarinda sudah cukup lelah untuk membahas persoalan negatif dari kota kesayangan ini. Namun, saya pun percaya ini tetap harus dibahas. Sampai pada akhirnya semua masalah itu terselesaikan. Semoga saja.

Percaya atau tidak, Samarinda merupakan Ibu Kota Provinsi yang sebagian besar wilayahnya adalah tambang batu bara. Tepatnya 71 % wilayah Kota Samarinda merupakan tambang batu bara. Mari kesampingkan sejenak soal keuntungan bagi pendapatan daerah kota Samarinda. Pertanyaannya lebih kepada, apakah pemerintah Kota Samarinda begitu mudahnya memberikan ijin tanpa memperhatikan tata letak dan ruang untuk pembangunan sebuah kota? Dan kemudian pertanyaanya akan bergulir kepada apakah semua tambang di Samarinda punya ijin yang valid dari pemerintah?

Baiklah, mari kita santai sejenak. Karena terus terang soal perijinan pemerintah, tata ruang kota, AMDAL dan lain sebagainya itu bukan wilayah kekuasaan saya. Saya hanyalah penduduk Samarinda yang mencintai kota ini dengan amatir. Bagi saya, Samarinda bebas banjir, punya banyak ruang terbuka hijau, tidak macet, dan merasa aman meskipun harus pulang malam, adalah perwujudan dari harapan dan mimpi terbesar saya sebagai warga Samarinda. Itu adalah puncak kebahagiaan saya. Namun, belakangan justru Samarinda semakin buruk saja citranya.

***

Tambang.

Ponton berisi muatan batu bara yang melewati Sungai Mahakam.

Bagaimanapun selalu ada dua sisi perspektif dari sebuah masalah. Sebenarnya mau tidak mau saya cukup bangga terhadap kekayaan bumi Kalimantan yang melimpah ruah dan membuat salah satu kabupaten di Kalimantan Timur ini menyandang status Kabupaten terkaya di Indonesia. Karena jika saya bandingkan dengan beberapa wilayah lain di Indonesia, saya termasuk dalam golongan orang-orang yang jemawa akan hal itu. Betapa tidak, ketika saya menyebutkan asal saya dari Kalimantan saja, pandangan mata mereka langsung menyiratkan kehormatan. Sudah biasa dianggap orang kaya, padahal sebenarnya sama melaratnya. Dan itu memang tidak bisa dipungkiri, taraf hidup dan bahkan jumlah penghasilan perbulan untuk profesi yang sama saja bisa jauh berbeda.

Namun, saya juga pernah pergi ke suatu daerah yang kekayaan alamnya diduga juga sangat melimpah ruah. Hanya saja masyarakatnya sepakat untuk tidak mengijinkan adanya kegiatan pertambangan sehingga keadaan alamnya masih terjaga dan sangat indah. Saya kemudian kagum, namun sesaat kemudian maklum. Karena dengan tidak adanya kegiatan eksplorasi, yang biasanya dilanjutkan dengan eksploitasi, daerah tersebut menjadi jauh tertinggal. Baik dalam bidang Ekonomi, Pendidikan, Sarana Prasarana, dan lain sebagainya. Ha! Hidup memang sebuah pilihan bukan? Meskipun, tetap saja ada sebuah daerah yang kekayaan alamnya di gali habis-habisan, dan daerah tersebut sama sekali tidak mendapatkan timbal balik apapun. Ada.

***

Tambang Batu Bara. 

Seperti yang banyak orang juga ketahui, tambang batu bara sangat menguntungkan bagi sebagian besar orang, namun bagian yang menderita justru lebih besar lagi. Saya tahu, mereka para pekerja tambang termasuk dalam kategori penyandang penghasilan diatas rata-rata UMR. Itu pekerja kasarnya. Belum lagi dihitung untuk para pekerja “ringan” yang hanya melihat-lihat saja sudah digaji, entahlah berapa banyak digit yang terlewat dari angka UMR. Pasti lebih banyak lagi. Lalu bagaimana dengan pemiliknya? Sudahlah. Kita sama-sama tahu siapapun pemiliknya, pasti menyandang status Miliarder.

Salah satu conveyor yang langsung mengarah ke Sungai Mahakam.

Tapi, apa kemudian itu semua bisa dibilang keuntungan jika hanya sebagian yang menikmati hasilnya sementara yang lain meratapinya? Biar lebih jelas, mari saya jabarkan poin-poin penting kerugian yang diderita oleh sebagian besar masyarakat Samarinda semenjak tambang meraja memenuhi 71% wilayah Kota Samarinda.
  1.  Tambang Batu Bara itu jahat terhadap Bumi. Dibuktikan dengan proses pengambilan dan pengolahannya untuk menjadi siap pakai. Lahan-lahan diledakkan. Lapisan tanah dibalik. Lubang-lubang dengan diameter hingga beberapa Kilometer dihasilkan. Jangankan indah, saya lebih memilih kata berbahaya untuk menggambarkannya.
  2. Jangan pernah lupakan dulunya diatas lahan yang digarap itu terdapat ratusan makhluk hidup yang membentuk ekosistem. Ketika lahan tersebut hancur, maka makhluk hidup itupun kehilangan rumahnya, keluarganya, bahkan mungkin dirinya sendiri.
  3. Dalam proses pengolahannya untuk menjadi batubara siap pakai, penambangan batu bara juga mengakibatkan polusi air bersih. Kalau di Samarinda, hasil pencucian conveyor batu bara itu meninggalkan sisa-sisa pecahan dan debu batu bara di Sungai.
  4. Sudah coba bayangkan berapa banyak sumber air bersih yang menghilang akibat penambangan batu bara? Termasuk di dalamnya cadangan air tanah dan wilayah resapan air hujan?
  5. Pembakaran batu bara sendiri menghasilkan emisi gas yang dapat merusak lapisan Ozon.
  6. Kegiatan penambangan juga menghasilkan lubang-lubang tambang yang tergenang air dengan kadar keasaman tinggi. Dan perlu diingat, lubang-lubang yang dibiarkan tanpa adanya reklamasi ini sudah memakan banyak korban.
  7. Debu dari kegiatan penambangan yang dekat dengan pemukiman penduduk sangat mengganggu bahkan menyebabkan penyakit salah satunya ISPA.
Dan, saya yakin, selain 7 poin di atas, masih banyak lagi dampak buruk yang dihasilkan oleh Tambang Batu Bara yang merugikan penduduk. Terutama tambang yang tidak jelas perijinannya, tidak jelas kegiatan pasca-tambangnya. tambang yang hanya mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa repot-repot memikirkan bagaimana penanggulangan ketika batu baranya telah habis dikuras.

***

Samarinda dan Tambang Batu Bara.

Peta Tambang Batu Bara di Kota Samarinda. (Sumber : Jatam Kaltim)

Sampai saat ini diketahui bahwa lahan tambang batu bara di wilayah kota Samarinda memakan sekitar 71% dari total luas kota Samarinda. Memang kelihatannya tidak bersinggungan langsung dengan saya yang beraktifitas di kota Samarinda, karena kegiatan sehari-hari saya memang hanya wilayah itu-itu saja. Padahal, daerah sekitaran tempat tinggal saya, yaitu Sempaja, termasuk salah satu wilayah tambang yang besar.

Tempo hari, saya diberi kesempatan untuk melihat lebih dekat. Merasakan secara langsung pengalaman para penduduk yang dirugikan. Yang pada akhirnya bisa membayangkan dengan pasti bagaimana penderitaan mereka sebagai manusia yang bersinggungan langsung dengan tambang. Untuk itu, saya berterima kasih terhadap JATAM karena memfasilitasi saya untuk mendapatkan perspektif baru.

Ada 232 lubang tambang di Samarinda yang masih belum jelas statusnya bagaimana. Dan mari mengingat yang telah lalu, sampai 2016 kemarin tercatat 15 anak yang meninggal di lubang tersebut. Dan ada 15 keluarga yang berduka namun belum mendapatkan kejelasan apapun dari pihak perusahaan tambang selain ungkapan belasungkawa. Pemerintah? Ambil sisi baiknya saja, mungkin pemerintah terlalu sibuk memikirkan hal lain sehingga masih sanggup menutup sebelah mata untuk kasus ini. Yap. Untuk 15 kasus ini.

Saya diberi informasi mengenai banyaknya perusahaan tambang yang bekerja di Hulu Sungai Karang Mumus. Totalnya 21 perusahaan dan 11 diantaranya masih aktif. Saya yakin, 10 diantaranya yang sudah tidak aktif tidak ambil pusing mengenai hal reklamasi. Karena sampai sekarang tidak ada kabar lebih lanjut mengenai itu. Apakah masih akan proses? Atau hanya seperti tamu yang tidak tahu diri, dipersilahkan masuk, merusak, dan kemudian pergi bersama angin? Entahlah, saya hanya bisa berandai-andai.

Dari kiri : Pak Baharudin - Pak Komari - Ibu Rahmawati

Dalam kesempatan kunjungan langsung ke tempat yang berbatasan langsung dengan Tambang Batu Bara, saya dan beberapa rekan penulis lain dibawa ke Makroman. Salah satu wilayah yang dibanggakan Samarinda atas jerih payah warganya mengedepankan bidang pertanian dan perkebunan di sana. Makroman merupakan salah satu penyumbang terdepan untuk beras di wilayah Samarinda. Sayangnya, hal yang dibanggakan ini harus rusak rutinitasnya akibat tambang batu bara.

Saya kemudian dipertemukan dengan bapak Baharudin, ketua kelompok tani di Makroman yang rumahnya dekat sekali dengan lahan tambang dari CV. Arjuna. Beliau salah satu warga yang paling aktif dalam memerangi tambang. Karena bagaimanapun tambang tersebut akhirnya merusak sumber pendapatannya.

Lahan pertanian yang berbatasan langsung dengan wilayah tambang

Diketahui, sejak 2008 perusahaan tambang ini beroperasi. Dan memusnahkan pasokan air bersih untuk kebutuhan lahan pertanian warga. Sehingga sekarang, dalam proses penanaman padinya, air yang digunakan adalah air dari danau lubang tambang di dekat sawah mereka. Otomatis dengan air hasil lubang tambang yang mengandung mineral-mineral yang berdampak buruk bagi makhluk hidup, hasil dari pertanian tersebut merosot drastis.

“Dulu sebelum ada tambang hasil panen kami bisa mencapai 7 ton beras, kalau sekarang paling banyak 3,5 ton. Belum lagi kolam ikan saya kalau musim hujan dan limbahnya turun, Desember ini saja indukan ikan Nila di satu kolam itu mati semua, sekitar 300-500 ekor. Dan tidak ada ganti rugi dari pihak perusahaan.” Katanya.

Saya juga bertemu salah satu petani yang menggarap sawah di wilayah itu juga. Bapak Komari yang sudah bertani sejak tahun 1985 Makroman. Beliau juga merasa bahwa hasil pertaniannya berkurang jauh dan semakin sulit saja semenjak ada tambang. Penghasilannya sekarang hanya cukup untuk makan keluarga. Sangat memprihatinkan sebenarnya, namun apakah perusahaan tambang melihat itu? Tidak. Mereka mungkin melihat, tapi mereka tidak peduli. Pemerintah? Sudahlah, saya tidak ingin berkomentar lebih jauh lagi.

Lubang bekas tambang di Makroman

Selain itu, saya juga dibawa menuju wilayah Sempaja menemui Ibu Rahmawati. Seorang ibu dari 4 orang anak yang harus rela kehilangan anak nomer 2 karena tenggelam di lubang tambang. Tidak ada yang lebih perih bagi orang tua daripada melihat kematian anaknya sendiri.

“Seperti badai di siang bolong ketika mendapat kabar tersebut. Saya tidak pernah menyangka anak saya tenggelam di sana. Padahal anak saya jarang main di kolam karena memang tidak bisa berenang.” Kata Ibu Rahmawati.

Selain tidak ada tanda larangan mendekat, PT. Graha Benua Etam sepertinya tidak mau repot-repot mengurusi bekas “mahakarya”-nya. Setelah kejadian itupun, tanda larangan baru dipasang. Dan kemudian setelah beberapa waktu berlalu lubang itu ditutup, diuruk asal-asalan.

“Sampai sekarang tidak ada perwakilan dari pihak terkait mengenai tindak lanjut masalah anak saya yang menjadi korban. Saya akan terus berjuang menuntut keadilan untuk itu. Agar nantinya tidak ada lagi yang bernasib seperti saya.” Lanjut Ibu Rahma.

Ditanya mengenai harapan lebih lanjut untuk wilayah pertaniannya di Makroman, bapak Komari tidak berkomentar apa-apa. Mungkin harapan sudah hilang dari benaknya, digantikan dengan cara-cara untuk bertahan hidup ditengah ketidak adilan tersebut. Sementara bapak Baharudin menegaskan akan terus berjuang melawan Tambang. “Saya akan bertahan, sampai titik darah penghabisan.” Tegasnya.

***

Saya, Samarinda, dan Tambang Batu Bara.

Lubang bekas tambang di Bengkuring

Begitulah. Persoalan tambang ini memang menyangkut harkat hidup orang banyak. Semua terkait dari petani hingga pemerintah. Lalu jika ingin dirunut lagi, siapa yang harus dipersalahkan? Pemerintah yang tidak tegas dan mengambil untung dari ini? Perusahaan yang semena-mena? Atau mungkin masyarakat yang salah ruang dan waktu berada dalam lingkupan drama pertambangan ini?

Terus terang, saya pun dalam ruang berpikir saya yang terbatas, rasanya ini semua menemui jalan buntu. Apa yang sudah diambil tidak bisa dikembalikan lagi. Apa yang sudah terjadi tidak bisa dihentikan lagi. Bola salju ini sudah menggelinding terlalu lama dan entah kapan akan berhenti menyisakan kerusakan yang tidak bisa dibenahi lagi. Selalu ada dua sisi mata uang, selalu ada dua sudut negatif dan positif dalam segala hal. Dan selalu ada resiko di setiap pilihan.

Mungkin, kedepannya yang bisa dilakukan adalah ajakan untuk menyerukan protes dan penegasan terhadap semua perusahaan tambang yang lalai. Sampai kapan? Sampai suara Bapak Baharudin, Bapak Komari dan Ibu Rahmawati bisa didengar oleh seluruh negri. Bahwa ratapan itu suatu saat bisa jadi ratapan mereka juga. Sampai Pemerintah sadar dan mulai memperbaiki apa yang telah dihancurkannya. Sampai Pemerintah memperhatikan kondisi rakyatnya yang menjadi korban. Mungkin akan memakan waktu yang sangat lama, berhubung ini semua seperti rantai yang berbelit dan tidak terputus. Namun, setidaknya kita berusaha.

Hingga Samarinda menjadi tempat tinggal yang lebih baik lagi.


Salam hangat dari warga Samarinda,
Frisca Putri.


Note : Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba #TulisCeritaKotamu dan didedikasikan untuk Bumi Pertiwi dalam merayakan hari Bumi.

Bagi Mereka Tahun Ajaran Baru Adalah Sebuah Harapan Baru.

Hari ini, di kota Samarinda sekolah baru memulai Tahun ajarannya 2016/2017. Beruntungnya saya masih diberi kesempatan untuk terus menjadi bagian dari tahun ajaran ini di salah satu sekolah menengah kejuruan negri di samarinda.

Sebenarnya saya hanya ingin menceritakan apa yang saya rasakan ketika untuk pertama kalinya dalam sekian tahun saya kembali ikut hadir dalam upacara bendera setiap hari senin.

Saya teringat diri saya sendiri ketika melihat siswa siswi memulai kegiatannya lagi. Kembali pada rutinitas yang menjemukan, namun bagi sebagian lagi sekolah menjadi tempat yang sama dengan wahana bermain. Tapi, saya yakin siswa saya menganggap sekolah hanyalah bagian dari rutinitas lainnya.

Indonesia. Yang mengenalkan rutinitas itu. Mengajarkan keteraturan, tp tidak mampu menyiapkan kita menghadapi kehidupan sesungguhnya. Rutinitas itu akhirnya menjadi bumerang bagi kita yang taat dan tertib pada peraturan. Ketika mereka lepas dari rutinitas, mereka kehilangan jati diri mereka.

Saya tersenyum mengingat tahun-tahun saya berada di SMA. Ketika menginjak tahun pertama, upacara pertama ini adalah hal yang mencemaskan. Sebut saja MOS untuk siswa baru. Bagaimanapun bentuknya saya tidak pernah menyukai hal itu. Bisa dibilang saya takut. Takut menghadapi perubahan dan takut menghadapi alur adaptasi mereka-mereka yang luar biasa. Pada akhirnya saya terpaksa harus berubah. Sungguh tidak mudah bagi anak usia 14 tahun belajar beradaptasi. Namun saya menyadadi bahwa sebenarnya MOS itulah yang membantu saya bertahan. Bagaimana saya akan menjalani hari-hari di sekolah, ditentukan disini.

Kemudian tahun kedua. Saya ingat betapa bangganya saya menjadi kakak kelas. Saya terbebas dari rasa takut pembullyan. Oh iya, saya termasuk salah satu siswa yang pernah di bully. Namun karena saya tidak peduli, akhirnya mereka melepaskan saya. Bukankah pembullyan adalah pelajaran berharga. Entah dasarnya apa, saya tidak pernah mengerti. Mungkin hanya karena saya sedikit berbeda dan tidak suka mengikuti arus mereka, sehingga rasa tidak suka itu muncul. Kita cenderung berfikiran negatif terhadap orang yg berbeda dengan kita, bukan?

Kembali kepada soal pelajaran berharga. Sebenarnya pembullyan adalah batu loncatan buat anak seusia itu. Jika dia bertahan, maka dia akan menjadi sosok yang kuat. Jika tidak, maka masa depannya akan ikut berantakan. Begitulah. Saya belajar untuk kuat semenjak saya masih sangat belia. Disitu saya belajar. Saya tidak bisa memaksakan setiap orang harus menyukai saya, dan saya belajar menerima bahwa ada orang"yang tidak suka kepada saya.

Selain rasa lega luar biasa, saya juga memiliki sedikit rasa kehilangan ketika itu. Tentunya saya kehilangan idola-idola saya di kelas 3 yang lalu. Dan, itu sedikit menyedihkan. Sembari berangan dalam hati, kiranya siapa di kelas 3 yang sekarang yg bsa jadi mood booster buat ke sekolah ya? Haha.. begitulah, namanya juga lagi puber.

Lalu, di tahun ke tiga. Ketika pertama kali ikut upacara bendera, saya kembali sedih. Karena sebentar lagi saya yg menghilang dari sekolah itu. Saya mulai tidak peduli dengan hal remeh. Saya mulai merenungkan, setelah lepas dari zona nyaman bernama rutinitas yang diatur orang tua dan pemerintah, saya harus membuat rutinitas saya sendiri.

Dan, perjalanan itu gak main-main. Bahkan setelah saya lulus SMA pun, saya masih belum punya ambisi. Saya masih mencari. Dan saya masih mengembangkan kemampuan saya. Jadi, saya rasa itu wajar. Ketika kita kebingungan dan hilang arah. Itu wajar. Karena suatu saat kita akan temukan passion kita sendirinya. Tidak perlu pusing. Yang penting tetap lakukan yang terbaik.

Begitulah. Melihat mereka semua masih berada dalam perlindungan kami, para guru ini, sedikit merasa terenyuh. Dan lucu. Jangan keburu-buru untuk dewasa, anak-anakku. Seiring bertambah dewasa kalian, beban fikiran yang akan kalian terima justru akan semakin berat. Hidup itu latihan. Tantangan. Dan benar-benar penuh dengan zona perang. Jika kalian tidak bisa bertahan, kalian akan gagal. Sabarlah. Semua akan datang dengan sendirinya. Nikmati dulu segala kemewahan masa SMA kalian. Karena setelah itu, hidup itu perih. Hidup itu luka.

Tetap menjadi yang bermanfaat buat orang lain. Hingga nanti, kedepannya kalian tidak akan merasa kesepian. Selamat berjuang.


Aku Memilihmu. [Fanfiksi Supernova]

Reuben menghembuskan nafas lega ketika melihat sosok wanita itu akhirnya keluar dari gerbang Kedatangan Internasional Bandara Soekarno-Hatta.

"Hai, akhirnya kamu kembali ke Indonesia juga." Reuben menatapnya hangat.

Zarah hanya tersenyum disapa seperti itu. Ada kerinduan mendalam yang tidak sanggup dia ungkapkan melalui kata-kata ketika ia melihat sosok Reuben.

"Langsung ke Bogor?" Tanya Reuben.

Zarah menggeleng. "Besok baru ke Bogor. Malam ini aku pinginnya sama kamu. Boleh?"

Reuben hanya tersenyum sekilas kemudian memeluk sosok mungil di depannya.

"Boleh?" Ulang Zarah dari dalam rengkuhan tubuh Reuben.

"Boleh. Selamanya juga boleh." Reuben berbisik.

"Dimas?"

Reuben terdiam sejenak. Melepaskan pelukannya kemudian memandang mata Zarah dalam-dalam.

"Boleh, Zarah. Karena pada akhirnya, aku memilihmu." 

Ada binar bahagia yang terpercik dari mata Zarah sekaligus sebulir air mata menetes bahagia dari dalamnya.

"Terima kasih, Reuben."

Zarah kembali tenggelam dalam pelukan Reuben. Kesedihan dan kekhawatiran yang dia rasakan sejak dalam pesawat tadi sirna. Dia tau ini langkah yang tepat, untuk pulang ke Indonesia dan kembali bermain dengan jamur-jamur keparat itu.

Setidaknya kali ini tidak hanya tentang jamur. Akan ada banyak teori-teori fisika kuantum yang mulai mengisi hidupnya. Waktu selamanya pun tidak akan cukup untuk membuatnya bosan dan kembali terpuruk. Dia yakin itu.

---

Note : Postingan ini tidak sesuai dengan aturan 300 kata di blog ini. Namun, karena maksimal kata untuk mengikuti lomba dari @bentangpustaka hanya 200 kata, untuk kali ini dimaafkan. Tulisan ini ditulis untuk mengikuti lomba #fanfiksisupernova #menantiintelegensiembunpagi . Aniway, salam dari salah satu #timreuben. :3

Cinta Adalah Kebebasan.

Memberanikan diri kali ini menulis tentang cinta. Tentang sesuatu yang terlalu luas sehingga tiada kata yang sanggup menguraikannya menjadi suatu definisi utuh. Bagaimanapun, ini hanya hasil kesimpulan dari beberapa informasi yang masuk dan saya olah. Entahlah, saya sendiri tidak terlalu paham dengan hal ini.

Hanya saja, yang saya tau pasti. 

Cinta adalah Kebebasan.

Cinta adalah kebebasan mutlak. Jatuhnya, datangnya, bahkan hilangnya selalu tanpa alasan yang jelas. Tiba-tiba saja kita yakini ini cinta. Di lain waktu tiba-tiba saja itu bukan cinta. Membingungkan. Sangkin luas dan bebasnya pemahaman tentang itu, satu satunya yang bisa saya simpulkan adalah, cinta adalah kebebasan.

Sampai sekarang, setelah beberapa kali saya merasakannya pun, saya tidak bisa mengingat dengan pasti alasan-alasan yang dapat menimbulkannya. Terkadang jatuh karena terbiasa. Di saat lain karena kekaguman yang meraja. Sisanya karena merasa mirip, dan jatuh cinta terhadap diri sendiri itu adalah hal yang paling mudah. Bagi saya, sih. Cinta itu bebas. Bebas jatuh kepada siapa saja yang siap. Bebas lepas dari siapa saja yang telah lelah.

Bahkan, menyikapinya pun bebas. Dan yang paling baik adalah memberikan kebebasan. Pernah dengar sebuah kalimat "jika kamu bahagia, itu sudah cukup bagiku. Karena itulah yang kurasakan juga. Kamu bahagia, aku juga."? Percaya? Saya, percaya.

Apa ya? Bagi sebagian orang, mencintai sama dengan keinginan memiliki. Dan saya selalu menggeleng sedih setiap melihat konsep ini berhamburan di luar sana. Sadarkah? Bahkan diri kita saja bukan milik kita loh, berani-beraninya mengklaim orang lain adalah milik kita.

Sehingga, yang terbaik adalah membebaskan. Karena pada dasarnya kita hanya aktor yang digerakkan oleh sutradara yang Maha Luar Biasa. Jika kita membebaskannya dalam keimanan yang sungguh, percaya pada apa yang sudah ditulis, pasti kesempatan bersama itu terbuka luas. Ini rahasia. Tetapi, banyak para pendahulu yang menggunakan trik ini justru sukses hidup bersama dengan jodohnya.

Cinta adalah kebebasan. Jangan sampai digunakan sebagai alasan untuk membatasi. Cinta itu membebaskan bukan menghalang-halangi. Cinta adalah keikhlasan, ikhlas menghambakan diri untuk berada dalam komitmet yang bertanggung jawab. Dan terakhir, cinta itu membahagiakan. Jika cintamu menyakitkan saja, itu jelas sekali berarti kamu yang sakit.

Tidak percaya? Coba saja. Tapi sekali lagi, ini rahasia. Dan hanya akan berhasil kepada orang-orang yang mempunyai kepercayaan yang kuat terhadap Suratan Tuhan. Selebihnya? Tidak akan berhasil.

Tidak percaya? Coba saja.
Coba saja Jatuh cinta. ;)


Karena Kampung Halaman Tidak Pernah Senyaman Rumah Sendiri.

Selamat Malam.

Melaporkan dari kampung halaman saya, Jawa Timur. Setelah beberapa minggu tinggal di sini dengan semua keindahan dan keunikan Kediri. Terlebih dengan kenyamanan yang saya dapatkan karena pada akhirnya saya bisa melampiaskan rasa rindu kepada Ibu tercinta. 

Saya akhirnya menyimpulkan demikian. Bahwa pulang kampung itu menyenangkan, namun rumah sendiri itu lebih nyaman.

Bagi saya, arti perjalanan kali ini menjadi sebuah "Reseter". Cara saya untuk menafikan semua rutinitas harian saya yang belakangan ini memang kehilangan pola sehatnya. Sehat di sini tentu saja tidah hanya berarti sehat raganya. Namun sehat jiwanya pula. Rutinitas ini saya akui tidak cukup sehat dan bisa membawa saya kepada kehancuran lainnya (Baca : Depresi).

Memang, tidak ada yang lebih menyenangkan dibanding berkumpul dengan orang yang kita sayang. Di sini saya benar-benar melupakan masalah saya. Dimanja habis-habisan. Baik oleh keluarga sendiri maupun dengan tempat-tempat yang saya datangi. Belum lagi hal-hal lainnya. Ini benar-benar seperti surga. Bagai mimpi indah yang panjang.

Dan saya, keluar habis-habisan dari zona nyaman saya.

Maksudnya adalah, saya merasa bebas. Lepas tanpa tanggung jawab yang membayangi, tanpa harus menghawatirkan hari esok, sebab yang saya pikirkan adalah bagaimana cara menghabiskan waktu yang menyenangkan, bukan bagaimana saya bertahan hidup esok hari. Dan saya sama sekali tidak berusaha apapun untuk melakukan perubahan. Sebut saja, saya tidak memperluas koneksi. Karena apa yang tertanam di dalam kepala adalah..

"Saya tidak bisa mempertahankannya, karena akan pergi. Lalu, buat apa berusaha?"

Mungkin, sejatinya kampung halaman itu seperti tempat kita melarikan diri sejenak dari apa yang kita rasakan. Dari pekerjaan. Masalah perasaan. Persahabatan. Dari hidup. Ini seperti salah satu tempat kita mengisi bahan bakar semangat untuk selanjutnya berjuang lagi di kemudian hari. Jauh lebih ampuh daripada liburan biasa, karena ada keluarga yang akan membuat semuanya menjadi berkali-kali lipat.

Ini adalah kebutuhan. Kita butuh tempat dimana kita bisa keluar dari zona nyaman kita dengan aman. Dan berada dalam pelukan keluarga adalah zona yang sangat aman. Bagi siapapun juga.

Sejatinya, rumah adalah tempat kita beristirahat dan berkumpul bersama keluarga, bukan? Namun bukan berarti rumah itu adalah tempat untuk pulang. Kita akan pulang kepada kehidupan kita. Tempat kita memikirkan dan berusaha untuk menggapai masa depan, tempat kita untuk mencapai ambisi, tempat kita tersandung dan jatuh untuk bangkit lagi. Kita semua punya satu tempat itu.

Itu adalah kehidupan kita. Dan orang-orang di dalamnya adalah orang-orang pilihan kita. Terlepas tempat itu benar-benar berbentuk rumah atau tidak, yang jelas hanya di dalam situasi itulah kamu bisa mengembangkan diri kamu dan menggunakan raga serta otak kamu semaksimal mungkin. Rumah itulah yang disebut zona nyaman.

Dan, impian kecil saya adalah, saya bisa berada dalam zona nyaman seseorang. Tidak perlu menjadi tempat dia pulang. Namun, menjadi salah satu alasan seseorang untuk kembali menghadapi hari dengan saya berada di dalamnya. Itu saja.

Sedang berjuang untuk tetap waras,
Kediri, 20.36 WIB.

[Tentang] Satu Kebaikan dan Sebuah Pengharapan.

Tentang sebuah lingkaran setan yang dari dulu tidak pernah saya temukan bagian mana yang benar bagian mana yang salah. Seperti sebuah pertanyaan yang selalu menjadi bahan perbincangan yang tak kunjung usai.

"Duluan mana, Ayam atau Telur?"

Mungkin kurang lebih kasusnya sama. Sama-sama terlalu sulit difikirkan jalan keluarnya jika hanya menggunakan logika manusia, atau dalam kasus ini, logika saya. Seringkali saya berfikir hal ini, namun selalu menemui jalan buntu. Selalu kembali kepada pertanyaan lainnya.

Mungkin ini tentang para pemberi harapan palsu itu, dan para korban yang merasa teraniaya karenanya. Tentang mereka yang selalu tersenyum manis kepada semua orang, namun, bagi salah satu diantaranya, senyum itu spesial. Padahal sebenarnya tidak.

Pertanyaannya kemudian adalah, apakah para pemberi kebaikan ini melakukan hal yang salah. Begitu salahnya hingga kebaikannya menimbulkan luka dalam hati orang lain? Bagian mananya yang salah? Bukankah sebuah kebaikan apapun itu, tidak pernah salah?

Namun, siapa yang bisa menyalahkan ketika kebaikan itu begitu membekas dihati seseorang sehingga timbul perasaan berbeda kepada sang pemberi kebaikan. Jatuh cinta, misalnya. Karena jatuh cinta sendiri berarti.. 

"memupuk pengharapan kepada siapapun itu. Berharap dibahagiakan. Berharap diberi kasih sayang. Berharap bisa bersama."

Dan karena saya masih bersikukuh tentang sebuah kebaikan apapun itu bentuknya, tidak pernah salah. Maka penilaian saya tentu berat kepada sang pengharap. Itu salahnya, kenapa tidak bisa menahan diri untuk tidak berharap? Bukankah kita semua paham pentingnya Tahu Diri?

Tapi sekali lagi, siapa yang bisa menyalahkan orang yang jatuh cinta? Mereka kehilangan logika dan hanya bertindak mengikuti hasrat dalam kepala mereka. Siapa yang bisa pintar ketika jatuh cinta? Dan siapa yang bisa menghentikan ketika cinta itu datang. Apalagi datangnya dari kebaikan yang selalu diterima dari sang pemberi kebaikan.

Sehingga, sekali lagi. Ini menemui jalan buntu. Tidak ada yang bisa dilakukan. Dan disalahkan. Masing-masing menjalani perannya dengan baik, bukan?

Mungkin sebenarnya yang perlu dikhawatirkan adalah kejadian setelah itu. Apakah sang pemberi kebaikan bisa bertanggung jawab terhadap hasil dari kebaikannya. Ataukah sang pengharap yang hendaknya mulai tahu diri untuk tidak membuat sang pemberi kebaikan menjadi tokoh antagonis dengan menghentikan pengharapan yang tidak berujung?

Entahlah. Drama ini tidak akan selesai jika bukan kita sendiri yang mengalaminya. Hanya saja, saya ingin memberikan pemahaman bahwa antara satu kebaikan dan sebuah pengharapan, semuanya sah-sah saja terjadi. Namanya kita manusia, itu tidak bisa dihindari.

Yang perlu diperhatikan hanya, mau berada di posisi mana? Pemberi kebaikan atau penaruh pengharapan? 

Silahkan difikirkan dengan tenang. :)

Kediri, 11.43 PM.