[Tentang] Saya, Samarinda, dan Tambang Batu Bara

Samarinda. 

Pesut sebagai lambang kota Samarinda

Kota dengan sejuta mimpi dan sejuta harap. Mimpi untuk menjadi kota besar bebas banjir berdaya wisata tinggi. Serta harap untuk bisa hidup aman tentram tanpa masalah berarti. Tapi, siapa yang bisa menjalani kehidupan di muka bumi ini tanpa masalah? Meskipun begitu, saya yakin masyarakat Samarinda sudah cukup lelah untuk membahas persoalan negatif dari kota kesayangan ini. Namun, saya pun percaya ini tetap harus dibahas. Sampai pada akhirnya semua masalah itu terselesaikan. Semoga saja.

Percaya atau tidak, Samarinda merupakan Ibu Kota Provinsi yang sebagian besar wilayahnya adalah tambang batu bara. Tepatnya 71 % wilayah Kota Samarinda merupakan tambang batu bara. Mari kesampingkan sejenak soal keuntungan bagi pendapatan daerah kota Samarinda. Pertanyaannya lebih kepada, apakah pemerintah Kota Samarinda begitu mudahnya memberikan ijin tanpa memperhatikan tata letak dan ruang untuk pembangunan sebuah kota? Dan kemudian pertanyaanya akan bergulir kepada apakah semua tambang di Samarinda punya ijin yang valid dari pemerintah?

Baiklah, mari kita santai sejenak. Karena terus terang soal perijinan pemerintah, tata ruang kota, AMDAL dan lain sebagainya itu bukan wilayah kekuasaan saya. Saya hanyalah penduduk Samarinda yang mencintai kota ini dengan amatir. Bagi saya, Samarinda bebas banjir, punya banyak ruang terbuka hijau, tidak macet, dan merasa aman meskipun harus pulang malam, adalah perwujudan dari harapan dan mimpi terbesar saya sebagai warga Samarinda. Itu adalah puncak kebahagiaan saya. Namun, belakangan justru Samarinda semakin buruk saja citranya.

***

Tambang.

Ponton berisi muatan batu bara yang melewati Sungai Mahakam.

Bagaimanapun selalu ada dua sisi perspektif dari sebuah masalah. Sebenarnya mau tidak mau saya cukup bangga terhadap kekayaan bumi Kalimantan yang melimpah ruah dan membuat salah satu kabupaten di Kalimantan Timur ini menyandang status Kabupaten terkaya di Indonesia. Karena jika saya bandingkan dengan beberapa wilayah lain di Indonesia, saya termasuk dalam golongan orang-orang yang jemawa akan hal itu. Betapa tidak, ketika saya menyebutkan asal saya dari Kalimantan saja, pandangan mata mereka langsung menyiratkan kehormatan. Sudah biasa dianggap orang kaya, padahal sebenarnya sama melaratnya. Dan itu memang tidak bisa dipungkiri, taraf hidup dan bahkan jumlah penghasilan perbulan untuk profesi yang sama saja bisa jauh berbeda.

Namun, saya juga pernah pergi ke suatu daerah yang kekayaan alamnya diduga juga sangat melimpah ruah. Hanya saja masyarakatnya sepakat untuk tidak mengijinkan adanya kegiatan pertambangan sehingga keadaan alamnya masih terjaga dan sangat indah. Saya kemudian kagum, namun sesaat kemudian maklum. Karena dengan tidak adanya kegiatan eksplorasi, yang biasanya dilanjutkan dengan eksploitasi, daerah tersebut menjadi jauh tertinggal. Baik dalam bidang Ekonomi, Pendidikan, Sarana Prasarana, dan lain sebagainya. Ha! Hidup memang sebuah pilihan bukan? Meskipun, tetap saja ada sebuah daerah yang kekayaan alamnya di gali habis-habisan, dan daerah tersebut sama sekali tidak mendapatkan timbal balik apapun. Ada.

***

Tambang Batu Bara. 

Seperti yang banyak orang juga ketahui, tambang batu bara sangat menguntungkan bagi sebagian besar orang, namun bagian yang menderita justru lebih besar lagi. Saya tahu, mereka para pekerja tambang termasuk dalam kategori penyandang penghasilan diatas rata-rata UMR. Itu pekerja kasarnya. Belum lagi dihitung untuk para pekerja “ringan” yang hanya melihat-lihat saja sudah digaji, entahlah berapa banyak digit yang terlewat dari angka UMR. Pasti lebih banyak lagi. Lalu bagaimana dengan pemiliknya? Sudahlah. Kita sama-sama tahu siapapun pemiliknya, pasti menyandang status Miliarder.

Salah satu conveyor yang langsung mengarah ke Sungai Mahakam.

Tapi, apa kemudian itu semua bisa dibilang keuntungan jika hanya sebagian yang menikmati hasilnya sementara yang lain meratapinya? Biar lebih jelas, mari saya jabarkan poin-poin penting kerugian yang diderita oleh sebagian besar masyarakat Samarinda semenjak tambang meraja memenuhi 71% wilayah Kota Samarinda.
  1.  Tambang Batu Bara itu jahat terhadap Bumi. Dibuktikan dengan proses pengambilan dan pengolahannya untuk menjadi siap pakai. Lahan-lahan diledakkan. Lapisan tanah dibalik. Lubang-lubang dengan diameter hingga beberapa Kilometer dihasilkan. Jangankan indah, saya lebih memilih kata berbahaya untuk menggambarkannya.
  2. Jangan pernah lupakan dulunya diatas lahan yang digarap itu terdapat ratusan makhluk hidup yang membentuk ekosistem. Ketika lahan tersebut hancur, maka makhluk hidup itupun kehilangan rumahnya, keluarganya, bahkan mungkin dirinya sendiri.
  3. Dalam proses pengolahannya untuk menjadi batubara siap pakai, penambangan batu bara juga mengakibatkan polusi air bersih. Kalau di Samarinda, hasil pencucian conveyor batu bara itu meninggalkan sisa-sisa pecahan dan debu batu bara di Sungai.
  4. Sudah coba bayangkan berapa banyak sumber air bersih yang menghilang akibat penambangan batu bara? Termasuk di dalamnya cadangan air tanah dan wilayah resapan air hujan?
  5. Pembakaran batu bara sendiri menghasilkan emisi gas yang dapat merusak lapisan Ozon.
  6. Kegiatan penambangan juga menghasilkan lubang-lubang tambang yang tergenang air dengan kadar keasaman tinggi. Dan perlu diingat, lubang-lubang yang dibiarkan tanpa adanya reklamasi ini sudah memakan banyak korban.
  7. Debu dari kegiatan penambangan yang dekat dengan pemukiman penduduk sangat mengganggu bahkan menyebabkan penyakit salah satunya ISPA.
Dan, saya yakin, selain 7 poin di atas, masih banyak lagi dampak buruk yang dihasilkan oleh Tambang Batu Bara yang merugikan penduduk. Terutama tambang yang tidak jelas perijinannya, tidak jelas kegiatan pasca-tambangnya. tambang yang hanya mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa repot-repot memikirkan bagaimana penanggulangan ketika batu baranya telah habis dikuras.

***

Samarinda dan Tambang Batu Bara.

Peta Tambang Batu Bara di Kota Samarinda. (Sumber : Jatam Kaltim)

Sampai saat ini diketahui bahwa lahan tambang batu bara di wilayah kota Samarinda memakan sekitar 71% dari total luas kota Samarinda. Memang kelihatannya tidak bersinggungan langsung dengan saya yang beraktifitas di kota Samarinda, karena kegiatan sehari-hari saya memang hanya wilayah itu-itu saja. Padahal, daerah sekitaran tempat tinggal saya, yaitu Sempaja, termasuk salah satu wilayah tambang yang besar.

Tempo hari, saya diberi kesempatan untuk melihat lebih dekat. Merasakan secara langsung pengalaman para penduduk yang dirugikan. Yang pada akhirnya bisa membayangkan dengan pasti bagaimana penderitaan mereka sebagai manusia yang bersinggungan langsung dengan tambang. Untuk itu, saya berterima kasih terhadap JATAM karena memfasilitasi saya untuk mendapatkan perspektif baru.

Ada 232 lubang tambang di Samarinda yang masih belum jelas statusnya bagaimana. Dan mari mengingat yang telah lalu, sampai 2016 kemarin tercatat 15 anak yang meninggal di lubang tersebut. Dan ada 15 keluarga yang berduka namun belum mendapatkan kejelasan apapun dari pihak perusahaan tambang selain ungkapan belasungkawa. Pemerintah? Ambil sisi baiknya saja, mungkin pemerintah terlalu sibuk memikirkan hal lain sehingga masih sanggup menutup sebelah mata untuk kasus ini. Yap. Untuk 15 kasus ini.

Saya diberi informasi mengenai banyaknya perusahaan tambang yang bekerja di Hulu Sungai Karang Mumus. Totalnya 21 perusahaan dan 11 diantaranya masih aktif. Saya yakin, 10 diantaranya yang sudah tidak aktif tidak ambil pusing mengenai hal reklamasi. Karena sampai sekarang tidak ada kabar lebih lanjut mengenai itu. Apakah masih akan proses? Atau hanya seperti tamu yang tidak tahu diri, dipersilahkan masuk, merusak, dan kemudian pergi bersama angin? Entahlah, saya hanya bisa berandai-andai.

Dari kiri : Pak Baharudin - Pak Komari - Ibu Rahmawati

Dalam kesempatan kunjungan langsung ke tempat yang berbatasan langsung dengan Tambang Batu Bara, saya dan beberapa rekan penulis lain dibawa ke Makroman. Salah satu wilayah yang dibanggakan Samarinda atas jerih payah warganya mengedepankan bidang pertanian dan perkebunan di sana. Makroman merupakan salah satu penyumbang terdepan untuk beras di wilayah Samarinda. Sayangnya, hal yang dibanggakan ini harus rusak rutinitasnya akibat tambang batu bara.

Saya kemudian dipertemukan dengan bapak Baharudin, ketua kelompok tani di Makroman yang rumahnya dekat sekali dengan lahan tambang dari CV. Arjuna. Beliau salah satu warga yang paling aktif dalam memerangi tambang. Karena bagaimanapun tambang tersebut akhirnya merusak sumber pendapatannya.

Lahan pertanian yang berbatasan langsung dengan wilayah tambang

Diketahui, sejak 2008 perusahaan tambang ini beroperasi. Dan memusnahkan pasokan air bersih untuk kebutuhan lahan pertanian warga. Sehingga sekarang, dalam proses penanaman padinya, air yang digunakan adalah air dari danau lubang tambang di dekat sawah mereka. Otomatis dengan air hasil lubang tambang yang mengandung mineral-mineral yang berdampak buruk bagi makhluk hidup, hasil dari pertanian tersebut merosot drastis.

“Dulu sebelum ada tambang hasil panen kami bisa mencapai 7 ton beras, kalau sekarang paling banyak 3,5 ton. Belum lagi kolam ikan saya kalau musim hujan dan limbahnya turun, Desember ini saja indukan ikan Nila di satu kolam itu mati semua, sekitar 300-500 ekor. Dan tidak ada ganti rugi dari pihak perusahaan.” Katanya.

Saya juga bertemu salah satu petani yang menggarap sawah di wilayah itu juga. Bapak Komari yang sudah bertani sejak tahun 1985 Makroman. Beliau juga merasa bahwa hasil pertaniannya berkurang jauh dan semakin sulit saja semenjak ada tambang. Penghasilannya sekarang hanya cukup untuk makan keluarga. Sangat memprihatinkan sebenarnya, namun apakah perusahaan tambang melihat itu? Tidak. Mereka mungkin melihat, tapi mereka tidak peduli. Pemerintah? Sudahlah, saya tidak ingin berkomentar lebih jauh lagi.

Lubang bekas tambang di Makroman

Selain itu, saya juga dibawa menuju wilayah Sempaja menemui Ibu Rahmawati. Seorang ibu dari 4 orang anak yang harus rela kehilangan anak nomer 2 karena tenggelam di lubang tambang. Tidak ada yang lebih perih bagi orang tua daripada melihat kematian anaknya sendiri.

“Seperti badai di siang bolong ketika mendapat kabar tersebut. Saya tidak pernah menyangka anak saya tenggelam di sana. Padahal anak saya jarang main di kolam karena memang tidak bisa berenang.” Kata Ibu Rahmawati.

Selain tidak ada tanda larangan mendekat, PT. Graha Benua Etam sepertinya tidak mau repot-repot mengurusi bekas “mahakarya”-nya. Setelah kejadian itupun, tanda larangan baru dipasang. Dan kemudian setelah beberapa waktu berlalu lubang itu ditutup, diuruk asal-asalan.

“Sampai sekarang tidak ada perwakilan dari pihak terkait mengenai tindak lanjut masalah anak saya yang menjadi korban. Saya akan terus berjuang menuntut keadilan untuk itu. Agar nantinya tidak ada lagi yang bernasib seperti saya.” Lanjut Ibu Rahma.

Ditanya mengenai harapan lebih lanjut untuk wilayah pertaniannya di Makroman, bapak Komari tidak berkomentar apa-apa. Mungkin harapan sudah hilang dari benaknya, digantikan dengan cara-cara untuk bertahan hidup ditengah ketidak adilan tersebut. Sementara bapak Baharudin menegaskan akan terus berjuang melawan Tambang. “Saya akan bertahan, sampai titik darah penghabisan.” Tegasnya.

***

Saya, Samarinda, dan Tambang Batu Bara.

Lubang bekas tambang di Bengkuring

Begitulah. Persoalan tambang ini memang menyangkut harkat hidup orang banyak. Semua terkait dari petani hingga pemerintah. Lalu jika ingin dirunut lagi, siapa yang harus dipersalahkan? Pemerintah yang tidak tegas dan mengambil untung dari ini? Perusahaan yang semena-mena? Atau mungkin masyarakat yang salah ruang dan waktu berada dalam lingkupan drama pertambangan ini?

Terus terang, saya pun dalam ruang berpikir saya yang terbatas, rasanya ini semua menemui jalan buntu. Apa yang sudah diambil tidak bisa dikembalikan lagi. Apa yang sudah terjadi tidak bisa dihentikan lagi. Bola salju ini sudah menggelinding terlalu lama dan entah kapan akan berhenti menyisakan kerusakan yang tidak bisa dibenahi lagi. Selalu ada dua sisi mata uang, selalu ada dua sudut negatif dan positif dalam segala hal. Dan selalu ada resiko di setiap pilihan.

Mungkin, kedepannya yang bisa dilakukan adalah ajakan untuk menyerukan protes dan penegasan terhadap semua perusahaan tambang yang lalai. Sampai kapan? Sampai suara Bapak Baharudin, Bapak Komari dan Ibu Rahmawati bisa didengar oleh seluruh negri. Bahwa ratapan itu suatu saat bisa jadi ratapan mereka juga. Sampai Pemerintah sadar dan mulai memperbaiki apa yang telah dihancurkannya. Sampai Pemerintah memperhatikan kondisi rakyatnya yang menjadi korban. Mungkin akan memakan waktu yang sangat lama, berhubung ini semua seperti rantai yang berbelit dan tidak terputus. Namun, setidaknya kita berusaha.

Hingga Samarinda menjadi tempat tinggal yang lebih baik lagi.


Salam hangat dari warga Samarinda,
Frisca Putri.


Note : Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba #TulisCeritaKotamu dan didedikasikan untuk Bumi Pertiwi dalam merayakan hari Bumi.

Bagi Mereka Tahun Ajaran Baru Adalah Sebuah Harapan Baru.

Hari ini, di kota Samarinda sekolah baru memulai Tahun ajarannya 2016/2017. Beruntungnya saya masih diberi kesempatan untuk terus menjadi bagian dari tahun ajaran ini di salah satu sekolah menengah kejuruan negri di samarinda.

Sebenarnya saya hanya ingin menceritakan apa yang saya rasakan ketika untuk pertama kalinya dalam sekian tahun saya kembali ikut hadir dalam upacara bendera setiap hari senin.

Saya teringat diri saya sendiri ketika melihat siswa siswi memulai kegiatannya lagi. Kembali pada rutinitas yang menjemukan, namun bagi sebagian lagi sekolah menjadi tempat yang sama dengan wahana bermain. Tapi, saya yakin siswa saya menganggap sekolah hanyalah bagian dari rutinitas lainnya.

Indonesia. Yang mengenalkan rutinitas itu. Mengajarkan keteraturan, tp tidak mampu menyiapkan kita menghadapi kehidupan sesungguhnya. Rutinitas itu akhirnya menjadi bumerang bagi kita yang taat dan tertib pada peraturan. Ketika mereka lepas dari rutinitas, mereka kehilangan jati diri mereka.

Saya tersenyum mengingat tahun-tahun saya berada di SMA. Ketika menginjak tahun pertama, upacara pertama ini adalah hal yang mencemaskan. Sebut saja MOS untuk siswa baru. Bagaimanapun bentuknya saya tidak pernah menyukai hal itu. Bisa dibilang saya takut. Takut menghadapi perubahan dan takut menghadapi alur adaptasi mereka-mereka yang luar biasa. Pada akhirnya saya terpaksa harus berubah. Sungguh tidak mudah bagi anak usia 14 tahun belajar beradaptasi. Namun saya menyadadi bahwa sebenarnya MOS itulah yang membantu saya bertahan. Bagaimana saya akan menjalani hari-hari di sekolah, ditentukan disini.

Kemudian tahun kedua. Saya ingat betapa bangganya saya menjadi kakak kelas. Saya terbebas dari rasa takut pembullyan. Oh iya, saya termasuk salah satu siswa yang pernah di bully. Namun karena saya tidak peduli, akhirnya mereka melepaskan saya. Bukankah pembullyan adalah pelajaran berharga. Entah dasarnya apa, saya tidak pernah mengerti. Mungkin hanya karena saya sedikit berbeda dan tidak suka mengikuti arus mereka, sehingga rasa tidak suka itu muncul. Kita cenderung berfikiran negatif terhadap orang yg berbeda dengan kita, bukan?

Kembali kepada soal pelajaran berharga. Sebenarnya pembullyan adalah batu loncatan buat anak seusia itu. Jika dia bertahan, maka dia akan menjadi sosok yang kuat. Jika tidak, maka masa depannya akan ikut berantakan. Begitulah. Saya belajar untuk kuat semenjak saya masih sangat belia. Disitu saya belajar. Saya tidak bisa memaksakan setiap orang harus menyukai saya, dan saya belajar menerima bahwa ada orang"yang tidak suka kepada saya.

Selain rasa lega luar biasa, saya juga memiliki sedikit rasa kehilangan ketika itu. Tentunya saya kehilangan idola-idola saya di kelas 3 yang lalu. Dan, itu sedikit menyedihkan. Sembari berangan dalam hati, kiranya siapa di kelas 3 yang sekarang yg bsa jadi mood booster buat ke sekolah ya? Haha.. begitulah, namanya juga lagi puber.

Lalu, di tahun ke tiga. Ketika pertama kali ikut upacara bendera, saya kembali sedih. Karena sebentar lagi saya yg menghilang dari sekolah itu. Saya mulai tidak peduli dengan hal remeh. Saya mulai merenungkan, setelah lepas dari zona nyaman bernama rutinitas yang diatur orang tua dan pemerintah, saya harus membuat rutinitas saya sendiri.

Dan, perjalanan itu gak main-main. Bahkan setelah saya lulus SMA pun, saya masih belum punya ambisi. Saya masih mencari. Dan saya masih mengembangkan kemampuan saya. Jadi, saya rasa itu wajar. Ketika kita kebingungan dan hilang arah. Itu wajar. Karena suatu saat kita akan temukan passion kita sendirinya. Tidak perlu pusing. Yang penting tetap lakukan yang terbaik.

Begitulah. Melihat mereka semua masih berada dalam perlindungan kami, para guru ini, sedikit merasa terenyuh. Dan lucu. Jangan keburu-buru untuk dewasa, anak-anakku. Seiring bertambah dewasa kalian, beban fikiran yang akan kalian terima justru akan semakin berat. Hidup itu latihan. Tantangan. Dan benar-benar penuh dengan zona perang. Jika kalian tidak bisa bertahan, kalian akan gagal. Sabarlah. Semua akan datang dengan sendirinya. Nikmati dulu segala kemewahan masa SMA kalian. Karena setelah itu, hidup itu perih. Hidup itu luka.

Tetap menjadi yang bermanfaat buat orang lain. Hingga nanti, kedepannya kalian tidak akan merasa kesepian. Selamat berjuang.


Aku Memilihmu. [Fanfiksi Supernova]

Reuben menghembuskan nafas lega ketika melihat sosok wanita itu akhirnya keluar dari gerbang Kedatangan Internasional Bandara Soekarno-Hatta.

"Hai, akhirnya kamu kembali ke Indonesia juga." Reuben menatapnya hangat.

Zarah hanya tersenyum disapa seperti itu. Ada kerinduan mendalam yang tidak sanggup dia ungkapkan melalui kata-kata ketika ia melihat sosok Reuben.

"Langsung ke Bogor?" Tanya Reuben.

Zarah menggeleng. "Besok baru ke Bogor. Malam ini aku pinginnya sama kamu. Boleh?"

Reuben hanya tersenyum sekilas kemudian memeluk sosok mungil di depannya.

"Boleh?" Ulang Zarah dari dalam rengkuhan tubuh Reuben.

"Boleh. Selamanya juga boleh." Reuben berbisik.

"Dimas?"

Reuben terdiam sejenak. Melepaskan pelukannya kemudian memandang mata Zarah dalam-dalam.

"Boleh, Zarah. Karena pada akhirnya, aku memilihmu." 

Ada binar bahagia yang terpercik dari mata Zarah sekaligus sebulir air mata menetes bahagia dari dalamnya.

"Terima kasih, Reuben."

Zarah kembali tenggelam dalam pelukan Reuben. Kesedihan dan kekhawatiran yang dia rasakan sejak dalam pesawat tadi sirna. Dia tau ini langkah yang tepat, untuk pulang ke Indonesia dan kembali bermain dengan jamur-jamur keparat itu.

Setidaknya kali ini tidak hanya tentang jamur. Akan ada banyak teori-teori fisika kuantum yang mulai mengisi hidupnya. Waktu selamanya pun tidak akan cukup untuk membuatnya bosan dan kembali terpuruk. Dia yakin itu.

---

Note : Postingan ini tidak sesuai dengan aturan 300 kata di blog ini. Namun, karena maksimal kata untuk mengikuti lomba dari @bentangpustaka hanya 200 kata, untuk kali ini dimaafkan. Tulisan ini ditulis untuk mengikuti lomba #fanfiksisupernova #menantiintelegensiembunpagi . Aniway, salam dari salah satu #timreuben. :3

Cinta Adalah Kebebasan.

Memberanikan diri kali ini menulis tentang cinta. Tentang sesuatu yang terlalu luas sehingga tiada kata yang sanggup menguraikannya menjadi suatu definisi utuh. Bagaimanapun, ini hanya hasil kesimpulan dari beberapa informasi yang masuk dan saya olah. Entahlah, saya sendiri tidak terlalu paham dengan hal ini.

Hanya saja, yang saya tau pasti. 

Cinta adalah Kebebasan.

Cinta adalah kebebasan mutlak. Jatuhnya, datangnya, bahkan hilangnya selalu tanpa alasan yang jelas. Tiba-tiba saja kita yakini ini cinta. Di lain waktu tiba-tiba saja itu bukan cinta. Membingungkan. Sangkin luas dan bebasnya pemahaman tentang itu, satu satunya yang bisa saya simpulkan adalah, cinta adalah kebebasan.

Sampai sekarang, setelah beberapa kali saya merasakannya pun, saya tidak bisa mengingat dengan pasti alasan-alasan yang dapat menimbulkannya. Terkadang jatuh karena terbiasa. Di saat lain karena kekaguman yang meraja. Sisanya karena merasa mirip, dan jatuh cinta terhadap diri sendiri itu adalah hal yang paling mudah. Bagi saya, sih. Cinta itu bebas. Bebas jatuh kepada siapa saja yang siap. Bebas lepas dari siapa saja yang telah lelah.

Bahkan, menyikapinya pun bebas. Dan yang paling baik adalah memberikan kebebasan. Pernah dengar sebuah kalimat "jika kamu bahagia, itu sudah cukup bagiku. Karena itulah yang kurasakan juga. Kamu bahagia, aku juga."? Percaya? Saya, percaya.

Apa ya? Bagi sebagian orang, mencintai sama dengan keinginan memiliki. Dan saya selalu menggeleng sedih setiap melihat konsep ini berhamburan di luar sana. Sadarkah? Bahkan diri kita saja bukan milik kita loh, berani-beraninya mengklaim orang lain adalah milik kita.

Sehingga, yang terbaik adalah membebaskan. Karena pada dasarnya kita hanya aktor yang digerakkan oleh sutradara yang Maha Luar Biasa. Jika kita membebaskannya dalam keimanan yang sungguh, percaya pada apa yang sudah ditulis, pasti kesempatan bersama itu terbuka luas. Ini rahasia. Tetapi, banyak para pendahulu yang menggunakan trik ini justru sukses hidup bersama dengan jodohnya.

Cinta adalah kebebasan. Jangan sampai digunakan sebagai alasan untuk membatasi. Cinta itu membebaskan bukan menghalang-halangi. Cinta adalah keikhlasan, ikhlas menghambakan diri untuk berada dalam komitmet yang bertanggung jawab. Dan terakhir, cinta itu membahagiakan. Jika cintamu menyakitkan saja, itu jelas sekali berarti kamu yang sakit.

Tidak percaya? Coba saja. Tapi sekali lagi, ini rahasia. Dan hanya akan berhasil kepada orang-orang yang mempunyai kepercayaan yang kuat terhadap Suratan Tuhan. Selebihnya? Tidak akan berhasil.

Tidak percaya? Coba saja.
Coba saja Jatuh cinta. ;)


Karena Kampung Halaman Tidak Pernah Senyaman Rumah Sendiri.

Selamat Malam.

Melaporkan dari kampung halaman saya, Jawa Timur. Setelah beberapa minggu tinggal di sini dengan semua keindahan dan keunikan Kediri. Terlebih dengan kenyamanan yang saya dapatkan karena pada akhirnya saya bisa melampiaskan rasa rindu kepada Ibu tercinta. 

Saya akhirnya menyimpulkan demikian. Bahwa pulang kampung itu menyenangkan, namun rumah sendiri itu lebih nyaman.

Bagi saya, arti perjalanan kali ini menjadi sebuah "Reseter". Cara saya untuk menafikan semua rutinitas harian saya yang belakangan ini memang kehilangan pola sehatnya. Sehat di sini tentu saja tidah hanya berarti sehat raganya. Namun sehat jiwanya pula. Rutinitas ini saya akui tidak cukup sehat dan bisa membawa saya kepada kehancuran lainnya (Baca : Depresi).

Memang, tidak ada yang lebih menyenangkan dibanding berkumpul dengan orang yang kita sayang. Di sini saya benar-benar melupakan masalah saya. Dimanja habis-habisan. Baik oleh keluarga sendiri maupun dengan tempat-tempat yang saya datangi. Belum lagi hal-hal lainnya. Ini benar-benar seperti surga. Bagai mimpi indah yang panjang.

Dan saya, keluar habis-habisan dari zona nyaman saya.

Maksudnya adalah, saya merasa bebas. Lepas tanpa tanggung jawab yang membayangi, tanpa harus menghawatirkan hari esok, sebab yang saya pikirkan adalah bagaimana cara menghabiskan waktu yang menyenangkan, bukan bagaimana saya bertahan hidup esok hari. Dan saya sama sekali tidak berusaha apapun untuk melakukan perubahan. Sebut saja, saya tidak memperluas koneksi. Karena apa yang tertanam di dalam kepala adalah..

"Saya tidak bisa mempertahankannya, karena akan pergi. Lalu, buat apa berusaha?"

Mungkin, sejatinya kampung halaman itu seperti tempat kita melarikan diri sejenak dari apa yang kita rasakan. Dari pekerjaan. Masalah perasaan. Persahabatan. Dari hidup. Ini seperti salah satu tempat kita mengisi bahan bakar semangat untuk selanjutnya berjuang lagi di kemudian hari. Jauh lebih ampuh daripada liburan biasa, karena ada keluarga yang akan membuat semuanya menjadi berkali-kali lipat.

Ini adalah kebutuhan. Kita butuh tempat dimana kita bisa keluar dari zona nyaman kita dengan aman. Dan berada dalam pelukan keluarga adalah zona yang sangat aman. Bagi siapapun juga.

Sejatinya, rumah adalah tempat kita beristirahat dan berkumpul bersama keluarga, bukan? Namun bukan berarti rumah itu adalah tempat untuk pulang. Kita akan pulang kepada kehidupan kita. Tempat kita memikirkan dan berusaha untuk menggapai masa depan, tempat kita untuk mencapai ambisi, tempat kita tersandung dan jatuh untuk bangkit lagi. Kita semua punya satu tempat itu.

Itu adalah kehidupan kita. Dan orang-orang di dalamnya adalah orang-orang pilihan kita. Terlepas tempat itu benar-benar berbentuk rumah atau tidak, yang jelas hanya di dalam situasi itulah kamu bisa mengembangkan diri kamu dan menggunakan raga serta otak kamu semaksimal mungkin. Rumah itulah yang disebut zona nyaman.

Dan, impian kecil saya adalah, saya bisa berada dalam zona nyaman seseorang. Tidak perlu menjadi tempat dia pulang. Namun, menjadi salah satu alasan seseorang untuk kembali menghadapi hari dengan saya berada di dalamnya. Itu saja.

Sedang berjuang untuk tetap waras,
Kediri, 20.36 WIB.

[Tentang] Satu Kebaikan dan Sebuah Pengharapan.

Tentang sebuah lingkaran setan yang dari dulu tidak pernah saya temukan bagian mana yang benar bagian mana yang salah. Seperti sebuah pertanyaan yang selalu menjadi bahan perbincangan yang tak kunjung usai.

"Duluan mana, Ayam atau Telur?"

Mungkin kurang lebih kasusnya sama. Sama-sama terlalu sulit difikirkan jalan keluarnya jika hanya menggunakan logika manusia, atau dalam kasus ini, logika saya. Seringkali saya berfikir hal ini, namun selalu menemui jalan buntu. Selalu kembali kepada pertanyaan lainnya.

Mungkin ini tentang para pemberi harapan palsu itu, dan para korban yang merasa teraniaya karenanya. Tentang mereka yang selalu tersenyum manis kepada semua orang, namun, bagi salah satu diantaranya, senyum itu spesial. Padahal sebenarnya tidak.

Pertanyaannya kemudian adalah, apakah para pemberi kebaikan ini melakukan hal yang salah. Begitu salahnya hingga kebaikannya menimbulkan luka dalam hati orang lain? Bagian mananya yang salah? Bukankah sebuah kebaikan apapun itu, tidak pernah salah?

Namun, siapa yang bisa menyalahkan ketika kebaikan itu begitu membekas dihati seseorang sehingga timbul perasaan berbeda kepada sang pemberi kebaikan. Jatuh cinta, misalnya. Karena jatuh cinta sendiri berarti.. 

"memupuk pengharapan kepada siapapun itu. Berharap dibahagiakan. Berharap diberi kasih sayang. Berharap bisa bersama."

Dan karena saya masih bersikukuh tentang sebuah kebaikan apapun itu bentuknya, tidak pernah salah. Maka penilaian saya tentu berat kepada sang pengharap. Itu salahnya, kenapa tidak bisa menahan diri untuk tidak berharap? Bukankah kita semua paham pentingnya Tahu Diri?

Tapi sekali lagi, siapa yang bisa menyalahkan orang yang jatuh cinta? Mereka kehilangan logika dan hanya bertindak mengikuti hasrat dalam kepala mereka. Siapa yang bisa pintar ketika jatuh cinta? Dan siapa yang bisa menghentikan ketika cinta itu datang. Apalagi datangnya dari kebaikan yang selalu diterima dari sang pemberi kebaikan.

Sehingga, sekali lagi. Ini menemui jalan buntu. Tidak ada yang bisa dilakukan. Dan disalahkan. Masing-masing menjalani perannya dengan baik, bukan?

Mungkin sebenarnya yang perlu dikhawatirkan adalah kejadian setelah itu. Apakah sang pemberi kebaikan bisa bertanggung jawab terhadap hasil dari kebaikannya. Ataukah sang pengharap yang hendaknya mulai tahu diri untuk tidak membuat sang pemberi kebaikan menjadi tokoh antagonis dengan menghentikan pengharapan yang tidak berujung?

Entahlah. Drama ini tidak akan selesai jika bukan kita sendiri yang mengalaminya. Hanya saja, saya ingin memberikan pemahaman bahwa antara satu kebaikan dan sebuah pengharapan, semuanya sah-sah saja terjadi. Namanya kita manusia, itu tidak bisa dihindari.

Yang perlu diperhatikan hanya, mau berada di posisi mana? Pemberi kebaikan atau penaruh pengharapan? 

Silahkan difikirkan dengan tenang. :)

Kediri, 11.43 PM.

Kepada Pagi, Selamat Untukmu. Kepada Kamu, Selamat Pagi Dariku.

Selamat Pagi Dari Biduk-Biduk (1705515)
Pagi ini entah kenapa tangan tiba-tiba tergerak membuka halaman lama dari satu wadah ini. Wadah yang sebenarnya terlalu absurd untuk dijadikan referensi tulisan sendiri. Namun harus diakui bahwa menulis disini sama menyenangkannya dengan menulis di sosmed yang terbatas 140 karakter itu.

Kepada pagi, selamat untukmu.

Selamat karena masih mau betemu dengan saya yang sampai sekarang masalahnya masih sama. Masih seperti itu. Tidak berubah. Masih si bodoh yang terlalu memikirkan orang lain dibanding dirinya sendiri. Masih terlalu sering terjebak dalam masalah orang lain dibandingkan masalah diri sendiri. Masih suka ikut campur? Ya. Meskipun sudah mengurangi drama.

"Pagi, berarti satu hari yang melelahkan terlampaui lagi. Pagi, berarti satu malam dengan mimpi-mimpi menyesakkan dilalui lagi."
-tereliye

Benar, bagaimanapun di dalam setiap pergantian hari, saya paling menyukai pagi. Bau petualangan tidak bisa dihindari. Seperti dorongan adrenalin yang kembali mengendus sesuatu di luar sana. Saya selalu menyukai perasaan ketika bangun pagi dan bersemangat menyusun hari. Meskipun, kebanyakan tidak pernah sesuai dengan rencana. Setidaknya, bersemangat diawal bukanlah bukti kebodohan semata.

Itu adalah bukti bahwa saya  hidup. Saya masih bisa berkarya lebih banyak lagi. Saya masih bisa berpetualang lebih jauh lagi.

Semangat seperti ini yang membuat saya selalu tersenyum kepada pagi. Pagi yang indah, dan menyenangkan. Walau kadang ada pagi-pagi dimana saya ingin membenamkan kepala di bantal dan selimut hangat kesayangan karena ingin melampaui hari begitu saja. Tapi itu nanti. Sekarang, mari hirup dalam-dalam aroma pagi yang penuh dengan semangat hidup ini.

Sepertinya satu masalah sudah terlewati lagi, ya?

Mungkin, mungkin juga tidak. Mungkin juga saya hanya sudah berhasil memilih tidak peduli. Dan berfokus pada pencapaian.

Dan kepada kamu, selamat pagi dariku.

Semoga semangat ini menular sampai kepadamu yang jauh di sana. Tenang, hidup ini mudah. Dan indah. Jika dan hanya jika kita mau membuka mata lebih lebar lagi untuk mensyukuri apapun yang ada disana.

Seseorang berkata. "Orang yang banyak bersyukur, adalah orang yang sehat."

Mari kita kembali berjalan melalui garis yang baik. Menuju kebaikan. Sampai akhirnya kita bertemu diujung hal baik. Bersama-sama menikmati hasilnya.

Selamat pagi. 

Jatuh Cinta Itu Biasa Saja

Jatuh cinta itu biasa saja. Sebiasa orang melihat matahari pagi yang muncul dari ufuk timur dan tenggelam di Barat. Sebiasa perpindahan menakjubkan langit senja dari biru terang menjadi hitam pekat. Sebiasa berada di tempat tertentu untuk tujuan tertentu.

Jatuh cinta itu biasa saja. Sebiasa kamu bangun di pagi hari sambil memikirkan orang yang sama. Sebiasa kamu makan ketika lapar dan minum ketika haus. Sebiasa detak jantung yang terus bergerak seirama kegiatan darah yg harus terus mengalir. Tiada spesialnya. Tiada istimewanya.

Jatuh cinta itu biasa saja. Sebiasa rindu yang tidak tersampaikan dengan sengaja. Sebiasa menelan perasaan pahit saat cinta tidak berbalas. Sebiasa takdir yang rumit ketika semuanya terasa sempurna meskipun pada akhirnya tidak. Biasa saja, tidak istimewa.

Jatuh cinta itu biasa saja.

Jatuh cinta itu biasa saja.

Jatuh cinta itu biasa saja.

Dan....

Jatuh cinta itu biasa saja.

Lalu kenapa harus diperumit dengan segala kerumitan yang tidak seharusnya terlaksana?

Biasakan saja. Anggap saja memang seharusnya terjadi. Biarkan saja. Jika memang dia yang ditakdirkan untukmu, semuanya akan berjalan sempurna.

Seperti takdir Tuhan yang biasa. Yang selalu indah dan tidak pernah terduga. ;)

Iya, jatuh cinta itu biasa saja, kok. :)


Dari Seorang Sahabat : U N T I T L E D

satu lagi anak adam yang merasakan betapa sakitnya jatuh
terperangkap di dalam lubang dalam yang digali sendiri olehnya
terpenjara dalam jeruji besi yang dia bangun dengan begitu kokoh
seperti jantungnya yang dia penjarakan pada satu orang
berdetak namun tak lagi sanggup menjalankan fungsi utamanya

 
cinta ini ternyata begitu dahsyat namun hati ini tetap mampu menampung
dia begitu utuh dan genap mengisi tiap inci celah yang ada
begitu penuhnya sehingga tiada ruang kosong bagi yang lain
aku menutupnya dengan rapat dan enggan berbagi jika bukan denganmu

ya,
bukankah aku mengemasnya memang hanya untukmu?


aku yang mungkin terlalu naif membaca isyarat
disela  dentang waktu yang lantang bergerak maju,
saat kau pilih menghabiskannya bersamaku
seharusnya aku mencerna bukan dari sederet kalimat yang kau ucap,
melainkan setiap huruf perlu di-eja
untuk merangkai isyarat hatimu menjadi sempurna

hatimu memang tidak pernah memilihku,
harusnya aku paham itu
sementara aku terlalu sibuk memenuhi rasa ini di dalam tempatnya,
mengemasnya dengan apik
jauh berharap agar kelak aku bisa memenjarakannya di sana denganmu,

ternyata tidak


sampai aku tidak menyadari bahwa hati ini penuh oleh rasa yang tidak berbalas
aku jauh berekspektasi,
mencoba berspekulasi pada probabilitas yang sama sekali tidak menjanjikan
aku memenjarakan hati yang telah penuh olehmu pada tubuhku sendiri
menyesakkan.


bukankan cinta yang begitu besar membutuhkan hati yang juga besar untuk dapat menampungnya?
sepasang hati untuk menampung cinta yang teramat besar
ketika hanya satu hati yang siap,
tidaklah beda ia seperti merpati yang sayapnya terpanah
terbang tinggi habiskan sisa daya yang ada sebelum akhirnya ia jatuh terhempas

cinta ini begitu kuat menjejal milyaran neuron dikepalaku
mencari celah untuk keluar dan ingin segera aku membebaskannya
melepasnya berkelana,
menjembatani anak-anak adam dan hawa lainnya di luar sana yang menanti
membiarkan cinta itu membelenggu sepasang insan manusia yang tepat 
 
aku semakin yakin di luar sana kau sedang melakukan hal serupa
seperti apa yang aku lakukan
mengisi hati dengan rasa yang kini telah kau temukan sendiri,
rasa yang kau yakini
rasa yang mampu membawamu terbang setinggi puncak gunung,
rasa yang mengantarkanmu pada sejuknya pepohonan di belantara hutan tanpa tersesat
atau pada kedalaman laut yang menyembunyikan keindahan dan keheningan
seperti cintamu padanya yang mungkin kini tlah berbalas,
yang orang lain tak perlu tau
 
satu pesan yang tak ingin langsung aku sampaikan,
dimana pun kau berada,
dalam lelapmu yang indah
dikala serdadu fajar siap menyergap,
menghujani pagi dengan tetesnya hingga akhirnya menguap 
cukuplah kau menjaga cinta itu,
biarkan ia membelenggu dua hati kalian yang kokoh menampungnya

jika satu hati terluka,
jangan biarkan karena ia akan membebaskanmu
dan satu hati lain ikut terluka

jika cinta adalah pengorbanan,
biar aku saja.
 
-
Subuh, Desember 2014
Yuji Djamal.


------------------------------------------------------------**

Dari seorang sahabat,

Entahlah. Membacanya hanya mengingatkan kepada diri sendiri. Ini begitu mirip dengan yang pernah (atau sebenarnya masih sedang?) saya jalani. Untungnya dia mau berbagi hal ini. Sehingga, tulisan hari ini dipersembahkan untuk dia yang melakukan pengorbanan hakiki. Mencintai namun tak dicintai. Dan pada akhirnya hanya bisa berkata,

… Jika cinta adalah pengorbanan, biar aku saja.


Dan saya kemudian teringat quotes yang sangat saya sukai sampai sekarang.

“Kau tahu, hakikat cinta adalah melepaskan. Semakin sejati ia, semakin tulus kau melepaskannya. Percayalah, jika memang itu cinta sejati kau, tidak peduli aral melintang, ia akan kembali sendiri padamu. Banyak sekali pecinta di dunia ini yang melupakan kebijaksanaan sesederhana itu. Malah sebaliknya, berbual bilang cinta, namun dia menggenggamnya erat-erat.”
--Tere Liye, novel 'Eliana'
 

Saya rasa cukup berkaitan. Karena terkadang melepaskan juga berarti berkorban. Bahkan terkadang menyerah membutuhkan sebuah kekuatan tersendiri, dan itu tidak mudah.

Seseorang juga pernah berkata,

"Cinta adalah gangguan jiwa. Kamu belum mencintai, kalau belum sakit jiwa"

Begitulah. Silahkan menarik kesimpulan sendiri. :)


---------
Day 16. *checked*
Feeling Amaze,
Regards. FDP.

[Tentang] Insomnia



Insomnia menurut Kamus kesehatan adalah gangguan di mana orang tidak dapat mendapatkan cukup tidur atau tidur yang restoratif, karena satu atau lebih faktor. Penderita insomnia sering memiliki gejala di siang hari yang terkait dengan kurang tidur, seperti kantuk di siang hari, kelelahan, dan penurunan kewaspadaan mental.

Sementara menurut KBBI,

Insomnia : (nomina) keadaan tidak dapat tidur krn gangguan jiwa.

Silahkan digaris bawahi bagian “gangguan jiwa”-nya.

Sementara itu, Insomnia bisa dibagi menjadi beberapa bagian. Ada dua jenis utama insomnia: insomnia akut (insomnia transien) yang terjadi selama periode yang cukup singkat dan insomnia kronis, yang gejalanya lebih lama (umumnya lebih dari satu bulan).

Insomnia juga dapat diklasifikasikan sebagai primer atau sekunder. Insomnia primer adalah gangguan yang tidak dapat dikaitkan dengan kondisi atau gangguan lain. Insomnia sekunder dapat ditelusuri ke sumber lain, yang mungkin adalah kondisi medis, penggunaan obat-obatan, alkohol atau zat lain, atau gangguan mental seperti depresi berat.

Dan kali ini, silahkan mulai menggaris bawahi “gangguan mental seperti depresi berat.” *LOL*

Jadi, maksud saya disini adalah saya ingin menekankan bahwa insomnia kebanyakan terjadi karena gangguan menta, gangguan jiwa atau semacamnya.  Meskipun saya bukan penderita yang akut karena hanya terjadi kadang-kadang saja. Ya, kadang-kadangnya itu pas-pasan waktu lagi menderita gangguan mental.

Atau gangguan jiwa.

Atau sedang jatuh cinta.

Atau sedang patah hati.

Saya baru benar-benar merasakannya semalam saat insomnia itu terjadi bukan karena gangguan jiwa. Dan saya sadar. Dan itu menyebalkan. Maksudnya, saya sadar saya mengantuk dan butuh tidur, namun otaknya terlalu bersemangat sehingga kehilangan kemampuan untuk meregangkan kesadaran saya supaya terlelap dalam keheningan malam.

Dan itu menyebalkan. Karena sungguh saya membutuhkan tidur.

Bayangkan, rasanya tubuh ini sudah lelah, biasanya dengan mengatur napas seadanya langsung akan terbang menghilang menuju dimensi lain. Namun ini, otak saya merespon dengan baik apapun yang saya lakukan. Nafas saya yang sengaja diatur. Perasaan selimut yang menyentuh kaki saya. Bahkan, saya bisa merasakan pasir-pasir kecil yang menahan tubuh saya di atas kasur. Hal-hal kecil seperti itu jadi sangat mengganggu dan membuat otak semakin tidak bersahabat.

Yang saya takutkan adalah karena malam itu panjang. Dan otak saya aktif. Saya takut kalau akhirnya saya terseret kedalam pikiran-pikiran yang tidak menyenangkan sampai pagi. Kasihan sekali jiwa saya kalau begitu. Belum lagi mood buruk yang akan menyertainya sehari kedepan. Dan belum lagi gangguan mentalnya. Serius loh, fokus berkurang saat kita kurang tidur, dan itu sangat-sangat membahayakan jiwa.

Tapi syukurlah, setelah memaksakan beberapa saat, saya mulai terlelap.

Kemudian, saya ngeri memikirkan bagaimana dengan dia yang mempunyai gejala insomnia akut dan kemudian jatuh cinta atau malah patah hati.

Ah, sudahlah.

---------
Day 15. *checked*
Feeling Okay,
Regards. FDP.